Menghormati Tuhan (bagian 2)

hormati-Tuhan

Dalam 1 Korintus 10:31 dikatakan,”Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”

Kata Yunani ” do,xa (doksa) ” yang dipakai di sini berarti “to honor, to glorify.” Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, Paulus menyatakan bagaimana Tuhan menghendaki supaya kita selalu menghormati Tuhan dalam segala aspek kehidupan ini. Semua yang kita lakukan haruslah untuk menghormati Tuhan.

“hwhy ta, dBek;l.(lekabed et Adonai)” berarti ‘menghormati Tuhan’. Kata “dBek;l.(lekabed) di sini berasal dari akar kata “Ibrani “dbeK'(kabed)” yang berarti ‘to honor, to be heavy’.

Baik makan, minum dan aktivitas lainnya, semuanya itu harus didasarkan pada menghormati Tuhan. Jadi semua ini bukanlah untuk diri kita sendiri, namun untuk kemuliaan Tuhan atau hormat kepada Tuhan.

Menghormati Tuhan berarti tidak bertindak sesuka hati, atau semaunya sendiri, namun mau mengikuti apa yang menjadi kemauan Tuhan.

Dalam Kejadian 20 ayat 11 dikatakan, ” Lalu Abraham berkata: ‘Aku berpikir: Takut akan Allah tidak ada di tempat ini; tentulah aku akan dibunuh karena isteriku.‘” Abraham beranggapan bahwa di wilayah Gerar ini orang akan berbuat semaunya tanpa menghormati Tuhan. Kalau mereka suka pada seorang wanita, maka mereka akan merebutnya dari suaminya serta membunuhnya. Keadaan seperti inilah yang merupakan contoh kehidupan yang tidak menghormati Tuhan, yakni semaunya sendiri.

Menghormati Tuhan berarti kita mau mentaati aturan atau guideline yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Dalam hal ini kita tidak bertindak semau kita sendiri, tapi mau mentaati Tuhan.

Menghormati Tuhan (Bagian 1)

hormati-Tuhan

Pada tahun ini Tuhan menghendaki supaya kita hidup menghormati Tuhan – ‘to honor  God’. Apakah dan bagaimanakah menghormati Tuhan itu, marilah kita lihat dalam 1 Samuel 2:30 yang berbunyi, “Sebab itu demikianlah firman TUHAN, Allah Israel sesungguhnya Aku telah berjanji: Keluargamu dan kaummu akan hidup di hadapan-Ku selamanya, tetapi sekarang demikianlah firman TUHAN :Jauhlah hal itu dari pada-Ku! Sebab siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati, tetapi siapa yang menghina Aku, akan dipandang rendah.”(`WLq”yE yz:boW dBek;a] yd:B.k;m.-yKi…)

Di dalam bahasa Ibrani dikatakan “hwhy ta, dBek;l.”(lekabed et Adonai). Kata Ibrani “dbeK'”(kabed) berarti ‘to honor, to be heavy’.

Di sini kita lihat bahwa Tuhan sendirilah yang berbicara mengenai menghormati Dia. Kehidupan kita haruslah merupakan kehidupan yang menghormati Allah (honoring God). Tuhan menghendaki supaya kita senantiasa menghormati Tuhan. Menghormati Tuhan bukanlah sekedar himbauan, akan tetapi ini mempunyai ikatan yang erat dengan janji Tuhan. “Sebab siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati(dBek;a] yd:B.k;m.-yKi).

Kalau kita mau melihat janji Tuhan dinyatakan dalam hidup kita, maka kita harus menyadari bahwa Tuhan menghendaki supaya kita menghormati Dia. Tidak akan ada janji Allah terjadi dalam hidup kita apabila kita tidak menghormati Dia lebih dulu.

Sepanjang tahun ini kita akan melihat bagaimana Allah akan menyatakan janji-Nya kepada kita jika kita sungguh-sungguh menghormati Dia.

Peripateo (anak bungsu) 36

en-auto-peripateo

Dalam perumpamaan Tuhan Yesus mengenai anak terhilang, si anak bungsu merupakan contoh bagaimana orang yang berjalan di luar jalur. Lukas 15:11-24 diceritakan, “11 Yesus berkata lagi: ‘Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. 12 Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. 13 Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. 14 Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat. 15 Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. 16 Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya.
17 Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. 18 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, 19 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. 20 Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. 21 Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. 22 Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. 23 Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. 24 Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria.'”
Berjalan di luar jalur Tuhan tidak akan memberikan hari depan yang penuh harapan. Hal ini terjadi karena: pertama, di luar jalur Tuhan tidak ada tuntunan ataupun pimpinan Roh Kudus. Galatia 5:16 mengatakan bahwa kita harus berjalan dipimpin oleh Roh Kudus. Yohanes 16:13 mengatakan bahwa Roh Kuduslah yang menuntun kita kepada segala kebenaran. Si anak bungsu menganggap bahwa dirinya bisa melakukan apa saja yang diingininya, namun karena tidak ada yang menuntunnya, maka dia terjerumus ke dalam kesulitan-kesulitan. Orang yang tidak berjalan di jalur Tuhan akan melakukan semua dengan sesuka hatinya sendiri. Inilah yang akan menjerumuskan kita ke dalam kesengsaraan.Roh Kudus hanya berkenan memimpin orang yang mau berjalan di jalur Tuhan saja.
Kedua, di luar jalur Tuhan segalanya adalah fana dan semu. Sekalipun si anak bungsu tampak berkelimpahan dengan harta, namun itu hanya seperti uap yang dalam sekejap akan lenyap. Materi yang sama di tangan orang yang berjalan di jalur Tuhan akan berbeda hasilnya. Di dalam jalur Tuhan tidak fana dan tidak semu. Sebaliknya di luar jalur Tuhan semuanya adalah fan dan semu.

Merayakan Natal. Alkitabiah Kah?

alkitab

Beberapa minggu yang lalu setelah ibadah doa malam di gereja kami, seorang bapak yang sedang berkunjung di gereja kami mengatakan kepada saya bahwa di gerejanya tidak mengadakan perayaan Natal pada setiap bulan Desember. “Anda tahu kalo Yesus bukan dilahirkan pada bulan Desember?” kata bapak itu kepada saya. “Pada dasarnya orang dulu itu merayakannya dan bertepatan untuk memuja dewa-dewa.. apa gitu.” lanjut bapak itu. “Tahukah kalo Yesus itu dilahirkan sekitar bulan April.. bukan Desember? Tidak ada di dalam Alkitab yang mengatakan bahwa Yesus lahir pada tanggal 25 desember. Jadi tidak baik dan tidak alkitabiah jika kita merayakannya!” lanjut bapak itu kembali sambil meneruskan penjelasannya yang.. masuk akal dan.. mungkin saja… benar.

“Pak, gereja kami memilih ibadah doa malam di hari kamis disini tidak ada di Alkitab. Ibadah di hari minggu setiap pagi yang dimulai jam delapan juga tidak ada di dalam Alkitab. Kebaktian kaum wanita setiap hari jumat di gereja kami dan juga gereja-gereja lain memilih mengadakan pada hari-hari lainnya tidak ada dalam Alkitab. Kebaktian Kebangunan Rohani yang diadakan malam hari oleh banyak gereja juga tidak ada dalam Alkitab. Tuhan tidak pernah menyuruh kita untuk merayakan harinya atau waktunya.. tetapi merayakan arti dari kelahiranNya, keberadaanNya, dan kebesaranNya di dalam hidup kita dan bagi kita. Jadi jangan melarang orang lain untuk merayakan natal di bulan desember.” jawab saya kepada bapak tersebut dengan penuh hormat.

(Mazmur 118:24)

(Diambil dari “Catatan-catatan Kecil Roy Rampengan di Facebook)

Mengasihi Tuhan

Tuhan-mengasihi

Kehidupan yang saleh dan taat kepada Tuhan adalah satu hal. Ayub juga adalah seorang yang taat kepada Tuhan sekalipun hanya dari kata orang saja dia mengenal Allah. Akan tetapi mengasihi Tuhan merupakan kunci untuk hidup berkemenangan. Seseorang bisa saja hidup saleh karena mentaati peraturan Tuhan, tetapi tidak tahu bagaimana mengasihi Tuhan.

‘Mengasihi’ dalam hal ini berarti ‘melekatkan hidup kita kepada-Nya.’ Mazmur 91 ayat 14 mengatakan, “Sungguh hatinya melekat kepadaku…” Di dalam bahasa aslinya dikatakan “ki bi khashaq.” Kata “khashaq” di sini berarti ‘menaruh cinta, atau jatuh cinta.‘ Kalau kita mengasihi Tuhan maka kita akan mempunyai pengalaman keintiman dengan Tuhan. Pengalaman inilah yang membuat kita benar-benar mengenal Tuhan secara pribadi bukan dari kata orang. Pengenalan yang benar akan Tuhan akan membuat kita mengenal dan mengerti setiap janji Tuhan dan ketetapan-ketetapan-Nya.

Efesus 6:24 Kasih karunia menyertai semua orang, yang mengasihi Tuhan kita Yesus Kristus dengan kasih yang tidak binasa.

Orang yang mengasihi Tuhan bukan saja mau mentaati ketetapan-ketetapan yang Tuhan berikan melalui Firman-Nya, akan tetapi juga selalu rindu mengekspresikan kasihnya tersebut melalui persekutuan yang intim dengan Tuhan. Sepasang kekasih yang saling mengasihi senantiasa menjaga keintiman dan keakraban antara keduanya. Dengan demikian akan timbul suatu pengenalan yang mendalam.

Dalam Kejadian pasal 4 ayat 1 diceritakan mengenai Adam dan Hawa yang saling memadu kasih sebagaimana layaknya suami istri. Melalui hubungan suami istri inilah maka hawa mengandung kemudian melahirkan Kain. Akan tetapi di dalam bahasa Ibrani digunakan kata “yada” yang berarti “mengenal.

Suatu pengenalan yang mendalam akan Tuhan merupakan hasil dari kasih yang mendalam kepada Tuhan. Oleh sebab itu apabila tidak ada dasar kasih maka tidak akan ada pengenalan yang benar. Dalam kisah Ayub, dapat dikatakan bahwa dia tidak tahu bagaimana seharusnya mengasihi Tuhan. Kesalehannya hanyalah wujud dari ketakutannya akan Tuhan saja, yang tidak disertai mengasihi Dia. Itulah sebabnya Ayub tidak mempunyai pengenalan yang benar akan Allah serta Firman-Nya.

Marilah kita lebih sungguh mengasihi Tuhan, yaitu dengan menjaga keintiman dan keakraban bersama Tuhan. Dengan demikian maka kita akan mempunyai pengenalan yang benar akan Tuhan termasuk juga ketetapan-ketetapan-Nya.

Matius 22:37 mengatakan, “Jawab Yesus kepadanya: ‘Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.’” Mengasihi Tuhan tidaklah hanya dengan akal budi saja (mind/pikiran), akan tetapi juga harus mencakup emosi atau perasaan kita.

Kata Yunani ‘ dianoi,a ‘ yang diterjemahkan ‘pikiran,‘ merupakan wilayah logika manusia. Seseorang bisa saja mengasihi Tuhan dengan pikirannya saja. Dalam hal ini dia beranggapan bahwa yang perlu adalah ketaatan saja. Akan tetapi Tuhan juga menghendaki agar kita mengasihi Dia dengan segenap jiwa kita.

Kata Yunani ‘psyche‘ yang berarti “jiwa” ini menunjukkan adanya kaitan dengan emosi atau perasaan. Kita mengasihi Tuhan dengan perasaan kita juga. Yohanes 4:25 mengatakan, “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” Di dalam bahasa Yunani kata ‘menyembah‘ ini adalah ‘proskyneo‘ yang mengandung pengertian “berintim dengan Tuhan.” Pada saat seperti inilah maka kita bisa menyatakan perasaan kasih kita kepada Dia. Inilah perasaan kasih yang diungkapkan ketika kita sedang menyembah Dia.

Dalam Markus 12:33 dikatakan, “Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.” Mengasihi Tuhan adalah yang paling utama di atas segalanya. Bahkan lebih dari upacara-upacara korban atau sesuatu yang bersifat ritual. Upacara korban sangat penting, akan tetapi ini hanya merupakan sarana saja. Melalui upacara korban ini maka hubungan dengan Allah benar-benar terwujud, antara lain terjadinya pengampunan, pemulihan dan lain sebagainya.

Untuk mendapat pengampunan atas dosanya maka umat-Nya memang harus mempersembahkan korban penghapus dosa. Ini merupakan substitusi dari korban yg Yesus lakukan di atas salib. Melalui korban Yesus inilah maka kita semua diselamatkan. Akan tetapi semua upacara korban tersebut hanyalah sarana saja untuk menghampiri Tuhan. Yang lebih penting adalah mengasihi Tuhan.

Kesalehan, ketaatan dan takut akan Tuhan harus didasarkan atas mengasihi Tuhan. Tanpa mengasihi Tuhan, maka semua itu hanyalah upacara belaka. Yang Tuhan kehendaki adalah mengasihi Dia, sebab mengasihi Tuhan akan berarti bahwa kita hidup taat dan setia kepada-Nya.

Pdt. Dr. Samuel Hosea.

Ayub Yang Saleh (Bag.4-4)

korban-bakaran

Selain menjaga kehidupannya yang murni di hadapan Tuhan, Ayub juga seorang yang tidak melalaikan ibadahnya kepada Tuhan. Ini menunjukkan bahwa dia senantiasa ingat pada Tuhannya. Dalam pasal 1 ayat 5 dikatakan, “Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: ‘Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati.’ Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.”

Korban bakaran yang dipakai di sini adalah “‘olah
yaitu, ‘burnt offerings.” Menurut hukum Musa yang dicatat dalam Imamat 1:1-17, korban bakaran ini merupakan persembahan sukarela yang dinaikkan kepada Tuhan. Ini merupakan persembahan yang berbau harum di hadapan Tuhan (sweet smelling offering). Korban ini adalah korban penyerahan kehidupan yang sepenuhnya kepada Tuhan. Sebenarnya korban bakaran ini tidak dimaksudkan suatu pengampunan terhadap adanya perbuatan dosa.

Untuk korban penghapus dosa ataupun pengampunan, maka korban yang harus dilakukan menurut Torah adalah “khata’ah” yang berarti “sin offering atau korban penghapus dosa.” Selain itu juga ada “‘asham” yang berarti “trespass offering atau korban penebus salah”(Im 4 &5).

Berbeda dengan korban bakaran, korban penghapus dosa dan penebus salah merupakan sesuatu yang wajib dalam kaitannya dengan perbuatan dosa. Itulah sebabnya ini disebut sebagai non-sweet smelling offerings atau korban yang tidak berbau harum.

Lebih dari dua ribu tahun yang lalu Yesus Kristus telah menjadi korban penghapus dosa bagi manusia. Dia rela mati di atas salib bagi kita semua sebagai korban atas segala dosa kita. Sebab tanpa korban Yesus tidak akan ada pengampunan. Tidak seorangpun di dunia ini yang sanggup memberikan pengampunan atas segala dosa kita kecuali Yesus saja.

Sebagaimana “sin offering atau korban penghapus dosa” dan “trespass offering atau korban penebus salah” yang harus disertai dengan pencurahan darah, demikian juga dengan Yesus, Dia telah mencurahkan darahnya sendiri untuk mengampuni dosa dan kesalahan kita. Ibrani 9 ayat 22 mengatakan, “Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.

Apa yang dilakukan dalam perjanjian Lama merupakan bayangan dari apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus ketika berkorban bagi kita. Dia adalah Anak Domba itu yang telah dikorbankan untuk kita. Kemudian setelah kita menerima pengampunan barulah korban bakaran itu menjadi efektif dalam kehidupan kita. Dalam hal ini kita mendedikasikan hidup kita sepenuhnya kepada Dia. Sebagaimana korban bakaran yang harus dijaga agar apinya tidak padam, demikian juga kita harus senantiasa mempersembahkan hidup kita kepada Tuhan.

Pdt. Dr. Samuel Hosea.

Ayub Yang Saleh (Bag.3-4)

ayub-yang-saleh

Dalam pasal 1 ayat 22 kitab Ayub ini dikatakan, “Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.” Bahasa aslinya mengatakan, ‘bekol zot lo khata ‘Iyob welo tiphla lelohim’ yang berarti “dalam kondisi seperti itu Ayub tidak melakukan dosa dalam kaitannya dengan tindakan-tindakan yang tidak layak kepada Tuhan.” Dosa yang dimaksudkan di sini adalah suatu bentuk perbuatan yang merupakan hujat kepada Tuhan ataupun perbuatan mengutuki Tuhan.

Juga dalam pasal 2 ayat 10 dikatakan, “Tetapi jawab Ayub kepadanya: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.” Dengan lebih jelas di sini dikatakan bahwa Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya. Ini berarti bahwa Ayub tidak mengucapkan hal-hal yang merupakan hujat maupun kutuk kepada Tuhan.

‘bekol zot lo khata ‘Iyob bisephatav”

Melalui terjemahan aslinya, dapat dipahami dengan jelas bahwa Ayub bukanlah seorang tidak berdosa sama sekali dalam hidupnya (sinless). “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”(Rm 3:23). Satu-satunya yang tidak berdosa sama sekali (sinless) hanyalah Yesus saja. Semua manusia sudah berdosa, tidak seorangpun yang benar.

Kesaksian Alkitab mengenai ketidakberdosaan Ayub ini sebenarnya merupakan suatu pernyataan bahwa Ayub memang tidak berbuat dosa dengan perkataannya. Dalam ayat 11 pasal 1 dikatakan bahwa iblis memang mentargetkan Ayub untuk mengutuki Tuhan – (“Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu”). Seolah-olah iblis begitu yakin pasti bahwa Ayub akan mengutuki Tuhan – “im-lo al phaneka yewarekeka”

Ternyata iblis keliru besar, karena Ayub sama sekali tidak mengutuki Tuhan sekalipun dia mengalami penderitaan yang sangat hebat tersebut.
Itulah sebabnya Alkitab menyatakan bahwa Ayub memang tidak berbuat dosa, akan tetapi ini tidak berarti bahwa Ayub tidak berdosa dalam segala hal. Dalam pasal 42:6 dikatakan bagaimana Ayub mau merendahkan diri dan mohon ampun di hadapan Tuhan. “Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.” Ayub menyadari akan adanya kesalahan-kesalahan dalam dirinya yang merupakan celah bagi iblis untuk menerobosnya. “wenikhamti ‘al-‘aphar wa’epher” Kata “nikhamti” ini berasal dari akar kata “nikham” yang berarti ‘bertobat.’

Pdt. Dr. Samuel Hosea. Surabaya maps

Ayub Yang Saleh (Bag.2-4)

Ayub memang seorang yang betul-betul saleh, jujur, takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Ini terbukti bahwa pada saat dia mengalami kesengsaraan yang begitu berat sekalipun, dia tidak berani mengutuki Allahnya. Sebaliknya dia malah bersujud di hadapan Tuhan dan memuja Dia.

Dalam Ayub 1:20 dikatakan,“Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah.” Tindakan mengoyak jubah (wayiqra et-me`ilo) dan mencukur kepalanya (wayagaz et-rosho) merupakan reaksi wajar dari seorang yang sedang berduka. Akar kata kerja “qara” berarti ‘merobek’, sedangkan akar kata “gazaz” berarti ‘mencukur.’ Namun yang istimewa dari Ayub dalam menghadapi situasi ini adalah bahwa dia justru tersungkur ke tanah dan sujud kepada Tuhan “wayipol artsah wayishtakhu.” Terjemahan bahasa Inggrisnya adalah ‘fall to the ground and bow down.’ Akar kata “khawah” berarti ‘to bow down.’

Selanjutnya dalam ayat 21 dikatakan,” katanya: ‘Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!'” Dalam keadaan seperti itu Ayub tetap dapat memuji Tuhan – akar kata “barak” berarti “memberkati.” ‘Blessed be the name of the Lord’(yehi shem ADONAI mevorak). Namun sayang sekali kesalehan Ayub ini tidak didasarkan atas pengenalan yang benar tentang Allah.

Pernyataan “ADONAI nathan, ADONAI laqakh”, yang diterjemahkan — ‘…TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil ,…’ bukan merupakan teologi Alkitab. Pada kenyataannya, Tuhan adalah pemberi damai sejahtera, berkat, keselamatan, kemenangan, kehidupan dst, namun Dia bukan pengambil berkat, damai sejahtera, kesehatan dst. Allah selalu memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya (Mat 7:11). Sebaliknya pengambil itu adalah si iblis yang merupakan pencuri, pembunuh dan pembinasa (Yoh 10:10).

Ini semua menunjukkan bahwa Ayub tidak mempunyai pengertian yang benar tentang Allah, tentunya juga Firman-Nya. Juga dalam pasal 2 ayat 10 yang mengatakan, “Tetapi jawab Ayub kepadanya: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.”

Kepada istrinya Ayub mengatakan “et-hatov neqabel me’et haELOHIM ve’et-hara` lo neqabel” yang menyatakan bahwa Allah memberi kebaikan sekaligus juga memberi keburukan (ra = ‘evil’). Padahal Yeremia 29:11 mengatakan bahwa Allah tidak pernah memberikan keburukan ( raah = ‘evil’).

Allah yang baik tidak pernah memberikan yang buruk dan tidak pernah mengambil hal yang baik dari manusia. Justru sebaliknya Dia mengambil dan menyingkirkan yang buruk dari manusia dan memberikan yang baik kepada manusia.

Yesus sudah menanggung semua dosa manusia dan mengambil alih hukuman yang mengerikan yang seharusnya ditanggung oleh manusia. Sebaliknya Yesus memberikan keselamatan kepada manusia. Yesus sudah menanggung segala sakit penyakit kita di atas salib, dan sebaliknya Dia memberikan kesembuhan bagi manusia yang mau percaya kepada-Nya.
Konsep yang keliru seperti ini terjadi sebagai akibat dari Ayub yang tidak mengenal Allah dengan baik.

Pdt. Dr. Samuel Hosea.

Ayub Yang Saleh (Bag.1-4)

Alkitab memberikan kesaksian bahwa Ayub benar-benar adalah seorang yang saleh. Dalam Ayub pasal 1 ayat 1 dikatakan, “Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.”

Kata ‘saleh’ yang dipakai di sini adalah “tam” yang berarti ‘murni, tidak bercela.’ Kata ini menyatakan suatu kehidupan yang bersih dan sempurna (complete) tanpa cacat di hadapan Allah serta manusia.

Sedangkan kata “yashar” berarti ‘lurus, benar.’ Ini menunjukkan suatu kualitas kehidupan yang tidak bengkok, tapi benar-benar lurus, jujur.

Kemudian kata “wire’ elohim” yang berarti ‘takut akan Allah.’ Kata “wire’ ” ini merupakan bentuk adjective yang berasal dari akar kata “yare’ “ yang berarti “fear.”
Kata ‘takut’ di sini menyatakan kesungguhan dalam menghormati Tuhan. Ketidakberanian untuk melakukan sesuau yang membuat Tuhan sedih.

Selanjutnya “wesar mera`” yang berasal dari akar kata “ra`” dan “sur” berarti ‘menghindari kejahatan atau lari meninggalkan kejahatan.’

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa Ayub adalah seorang yang ‘saleh, jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.’ Tiga kali hal ini ditampilkan (1:1,8; 2:3) untuk menunjukkan betapa salehnya kehidupan Ayub tersebut.

Ayub mempunyai suatu kualitas kehidupan yang bisa membuat Tuhan bangga, sekalipun ini tidak berarti bahwa Ayub tidak bisa berbuat kesalahan. Sebagai manusia Ayub juga tidak lepas dari kelemahan ataupun kekurangan, akan tetapi dia senantiasa berusaha menjaga kehidupannya agar tidak melanggar ketetapan-ketetapan Allah. Ayub selalu menghindari hal-hal yang merupakan kejahatan, tentunya ini sesuatu yang disukai iblis tapi yang tidak disukai Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan benar-benar bangga dengan Ayub bahkan dua kali dicatat bagaimana Tuhan menyatakan betapa salehnya Ayub tersebut (1:8 & 2:3).

Ketetapan Allah adalah untuk ditaati. Jikalau ketetapan Allah tidak lagi diindahkan maka tidak akan ada lagi gunanya, malah akan mendatangkan hukuman dalam kehidupan manusia. Sekalipun Ayub mengetahui tentang Allah termasuk juga peraturan-peraturan-Nya hanya dari kata orang saja, namun dia tetap berusaha mentaati dengan sebaik-baiknya.

Dalam pasal 42 ayat 5 Ayub mengaku di hadapan Tuhan bahwa dia mengenal tentang Allah hanya dari kata orang saja. Terjemahan aslinya mengatakan “leshema-ozen shematika.” Kata “shema” yang dipakai di sini berarti “report, tidings.”(ref. Kej 29:13; Kel 23:1; Mzm 18:45).
Sekalipun Ayub mendapatkan informasi hanya melalui laporan (report), mendengar peraturan Allah hanya dari kata orang, akan tetapi toh dia tetap mau mentaatinya, sehingga dapat menjaga kehidupan yang tetap saleh di hadapan Tuhan.

Taat kepada ketetapan Allah itu sangat penting. Itulah sebabnya marilah kita benar-benar mau mentaati Firman Allah.

Pdt. Dr. Samuel Hosea.

Sistem Disiplin Dalam “On-Time”

Ketika saya masih studi di sekolah Alkitab di Surabaya, kami memiliki seorang dosen yang benar-benar disiplin dalam waktu dimulainya kelas, khususnya dalam hal On-Time. Sampai-sampai murid yang datang terlambat kuliah untuk mengikuti kelas tidak dijinkan untuk masuk. (termasuk saya yang pernah mengalaminya. :D) Saya ingat dosen saya ini berkata bahwa terlalu banyak mahasiswa Alkitab yang tidak disiplin dalam hal berkuliahnya; datang suka terlambat. Saat itu saya benar-benar tertegur.

Hanya, terlalu sering setiap waktu pelajaran yang semestinya sudah selesai, dosen saya masih terus mengajar.. bahkan pernah sampai setengah jam lewat dari waktunya. Waktu itu saya berpikir, apakah yang dinamakan On-Time adalah hanya waktu mulai kuliahnya saja sedangkan jika waktu selesai itu tidak termasuk dalam On-Time.

Saya dulu pernah berpikir ketika menonton film, mengapa sekolah-sekolah di luar negeri, di Amerika contohnya, ketika jam pelajaran sudah selesai selalu membunyikan Ring-Bell dan walaupun guru masih menjelaskan mata pelajarannya yang belum selesai, namun saat itu juga guru harus mengakhiri sesi belajar tersebut?

Suatu ketika saya berkunjung ke salah satu Elementry School di kota Iowa City dan bertanya dengan salah satu staf sekolah tersebut tentang hal ini dan ia mengatakan: “Ini hanya bagian kecil dari sistem disiplin yang ada di sekolah-sekolah.” “Sistem disiplin.. wiiih”.. pikir saya.

Artinya sebagus apapun sistem yang ada, jika tidak diterapkan dengan baik (disiplin), akan merusak sistem yang sudah diterapkan didalamnya. Sebagai contoh, di gereja lokal kami, pemimpin rohani kami mengajarkan untuk tepat waktu dalam hal beribadah. Apalagi jadwal ibadah di gereja lokal kami saat ini ada tiga kali pertemuan ibadah, jam tujuh pagi, sembilan, dan sepuluh. Biasanya kami selesai On-Time (tidak melebihi jam yang sudah ada di dalam sistem yang diberikan) dalam setiap pertemuan ibadah supaya jam ibadah berikutnya boleh berjalan sesuai tepat waktu. Sistem disiplin ini mensuport terciptanya visi yang diharapkan oleh pemimpin rohani di gereja lokal kami. Andai saja sistem disiplin ini diabaikan, misalnya saja ibadah yang diadakan jam tujuh atau yang jam sembilan sering molor waktu selesainya, tanpa disadari (dibawah alam sadar) jemaat bisa jadi berpikir.. “toh kebaktian yang sebelumnya belum selesai.. untuk apa saya datang On-Time.”

Saya jadi mengerti, bahwa di dalam setiap sistem ada yang namanya awal dan yang namanya akhir. Dimanapun, harapan seratus persen untuk menjalankan sistem disiplin tepat waktu ini sulit untuk dicapai. Masih banyak anak sekolah yang datang terlambat ke sekolah, masih banyak pegawai yang datang terlambat ke tempat kerja mereka, masih banyak jemaat gereja yang datang terlambat mengikuti kebaktian di gereja mereka.

“Ehmm…. sudah ada sistem disiplin saja hasilnya masih begini.. apalagi kalo tidak ada..” pikir saya.

(1 Korintus 14:40)

Roy Rampengan