Ayub Yang Saleh (Bag.1-4)

Alkitab memberikan kesaksian bahwa Ayub benar-benar adalah seorang yang saleh. Dalam Ayub pasal 1 ayat 1 dikatakan, “Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.”

Kata ‘saleh’ yang dipakai di sini adalah “tam” yang berarti ‘murni, tidak bercela.’ Kata ini menyatakan suatu kehidupan yang bersih dan sempurna (complete) tanpa cacat di hadapan Allah serta manusia.

Sedangkan kata “yashar” berarti ‘lurus, benar.’ Ini menunjukkan suatu kualitas kehidupan yang tidak bengkok, tapi benar-benar lurus, jujur.

Kemudian kata “wire’ elohim” yang berarti ‘takut akan Allah.’ Kata “wire’ ” ini merupakan bentuk adjective yang berasal dari akar kata “yare’ “ yang berarti “fear.”
Kata ‘takut’ di sini menyatakan kesungguhan dalam menghormati Tuhan. Ketidakberanian untuk melakukan sesuau yang membuat Tuhan sedih.

Selanjutnya “wesar mera`” yang berasal dari akar kata “ra`” dan “sur” berarti ‘menghindari kejahatan atau lari meninggalkan kejahatan.’

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa Ayub adalah seorang yang ‘saleh, jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.’ Tiga kali hal ini ditampilkan (1:1,8; 2:3) untuk menunjukkan betapa salehnya kehidupan Ayub tersebut.

Ayub mempunyai suatu kualitas kehidupan yang bisa membuat Tuhan bangga, sekalipun ini tidak berarti bahwa Ayub tidak bisa berbuat kesalahan. Sebagai manusia Ayub juga tidak lepas dari kelemahan ataupun kekurangan, akan tetapi dia senantiasa berusaha menjaga kehidupannya agar tidak melanggar ketetapan-ketetapan Allah. Ayub selalu menghindari hal-hal yang merupakan kejahatan, tentunya ini sesuatu yang disukai iblis tapi yang tidak disukai Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan benar-benar bangga dengan Ayub bahkan dua kali dicatat bagaimana Tuhan menyatakan betapa salehnya Ayub tersebut (1:8 & 2:3).

Ketetapan Allah adalah untuk ditaati. Jikalau ketetapan Allah tidak lagi diindahkan maka tidak akan ada lagi gunanya, malah akan mendatangkan hukuman dalam kehidupan manusia. Sekalipun Ayub mengetahui tentang Allah termasuk juga peraturan-peraturan-Nya hanya dari kata orang saja, namun dia tetap berusaha mentaati dengan sebaik-baiknya.

Dalam pasal 42 ayat 5 Ayub mengaku di hadapan Tuhan bahwa dia mengenal tentang Allah hanya dari kata orang saja. Terjemahan aslinya mengatakan “leshema-ozen shematika.” Kata “shema” yang dipakai di sini berarti “report, tidings.”(ref. Kej 29:13; Kel 23:1; Mzm 18:45).
Sekalipun Ayub mendapatkan informasi hanya melalui laporan (report), mendengar peraturan Allah hanya dari kata orang, akan tetapi toh dia tetap mau mentaatinya, sehingga dapat menjaga kehidupan yang tetap saleh di hadapan Tuhan.

Taat kepada ketetapan Allah itu sangat penting. Itulah sebabnya marilah kita benar-benar mau mentaati Firman Allah.

Pdt. Dr. Samuel Hosea.

Comment

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*