Ayub Yang Saleh (Bag.2-4)

Ayub memang seorang yang betul-betul saleh, jujur, takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Ini terbukti bahwa pada saat dia mengalami kesengsaraan yang begitu berat sekalipun, dia tidak berani mengutuki Allahnya. Sebaliknya dia malah bersujud di hadapan Tuhan dan memuja Dia.

Dalam Ayub 1:20 dikatakan,“Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah.” Tindakan mengoyak jubah (wayiqra et-me`ilo) dan mencukur kepalanya (wayagaz et-rosho) merupakan reaksi wajar dari seorang yang sedang berduka. Akar kata kerja “qara” berarti ‘merobek’, sedangkan akar kata “gazaz” berarti ‘mencukur.’ Namun yang istimewa dari Ayub dalam menghadapi situasi ini adalah bahwa dia justru tersungkur ke tanah dan sujud kepada Tuhan “wayipol artsah wayishtakhu.” Terjemahan bahasa Inggrisnya adalah ‘fall to the ground and bow down.’ Akar kata “khawah” berarti ‘to bow down.’

Selanjutnya dalam ayat 21 dikatakan,” katanya: ‘Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!'” Dalam keadaan seperti itu Ayub tetap dapat memuji Tuhan – akar kata “barak” berarti “memberkati.” ‘Blessed be the name of the Lord’(yehi shem ADONAI mevorak). Namun sayang sekali kesalehan Ayub ini tidak didasarkan atas pengenalan yang benar tentang Allah.

Pernyataan “ADONAI nathan, ADONAI laqakh”, yang diterjemahkan — ‘…TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil ,…’ bukan merupakan teologi Alkitab. Pada kenyataannya, Tuhan adalah pemberi damai sejahtera, berkat, keselamatan, kemenangan, kehidupan dst, namun Dia bukan pengambil berkat, damai sejahtera, kesehatan dst. Allah selalu memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya (Mat 7:11). Sebaliknya pengambil itu adalah si iblis yang merupakan pencuri, pembunuh dan pembinasa (Yoh 10:10).

Ini semua menunjukkan bahwa Ayub tidak mempunyai pengertian yang benar tentang Allah, tentunya juga Firman-Nya. Juga dalam pasal 2 ayat 10 yang mengatakan, “Tetapi jawab Ayub kepadanya: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.”

Kepada istrinya Ayub mengatakan “et-hatov neqabel me’et haELOHIM ve’et-hara` lo neqabel” yang menyatakan bahwa Allah memberi kebaikan sekaligus juga memberi keburukan (ra = ‘evil’). Padahal Yeremia 29:11 mengatakan bahwa Allah tidak pernah memberikan keburukan ( raah = ‘evil’).

Allah yang baik tidak pernah memberikan yang buruk dan tidak pernah mengambil hal yang baik dari manusia. Justru sebaliknya Dia mengambil dan menyingkirkan yang buruk dari manusia dan memberikan yang baik kepada manusia.

Yesus sudah menanggung semua dosa manusia dan mengambil alih hukuman yang mengerikan yang seharusnya ditanggung oleh manusia. Sebaliknya Yesus memberikan keselamatan kepada manusia. Yesus sudah menanggung segala sakit penyakit kita di atas salib, dan sebaliknya Dia memberikan kesembuhan bagi manusia yang mau percaya kepada-Nya.
Konsep yang keliru seperti ini terjadi sebagai akibat dari Ayub yang tidak mengenal Allah dengan baik.

Pdt. Dr. Samuel Hosea.

One thought on “Ayub Yang Saleh (Bag.2-4)

Comment

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*