Menghormati Tuhan (bagian 8)

Adam dan Hawa merupakan contoh orang yang tidak menghormati Tuhan. Kejadian 3:1-10 berbunyi, ” 1Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” 2 Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, 3 tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.” 4 Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, 5 tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” 6 Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya. 7 Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat. 8 Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. 9 Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?” 10 Ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.””

Manusia sebenarnya diciptakan segambar serupa dengan Allah, sebagaimana yang dicatat dalam Kejadian 1:26-28, “26 Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” 27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. 28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.””

Bahkan mereka dinaungi berkat Tuhan, namun sekarang sudah dijadikan sesuatu yang memalukan. Setelah melanggar perintah Tuhan maka Adam dan Hawa menyadari bahwa dirinya telanjang, sehingga mereka menjadi malu. Inilah yang disebut tidak menghormati Tuhan, yakni bagaimana gambar dan rupa Allah tersebut sudah dipermalukan. Image Allah kini telah menjadi sesuatu yang dipermalukan.

Supaya kita tidak terjerumus kepada tidak menghormati Tuhan, maka pertama, iblis yang adalah musuh tidak seharusnya kita tanggapi. Kita tidak seharusnya berdiskusi dengan iblis. Hawa jatuh ke dalam dosa karena memberi kesempatan kepada iblis untuk berdiskusi dengannya.

Kedua, kita harus memegang teguh firman-Nya. Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa karena mereka tidak memegang teguh pesan-Nya.

Marilah kita menghormati Tuhan dengan tidak memberi kesempatan kepada iblis, serta tetap berpegang teguh pada Firman-Nya.

Ayub Yang Saleh (Bag.2-4)

Ayub memang seorang yang betul-betul saleh, jujur, takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Ini terbukti bahwa pada saat dia mengalami kesengsaraan yang begitu berat sekalipun, dia tidak berani mengutuki Allahnya. Sebaliknya dia malah bersujud di hadapan Tuhan dan memuja Dia.

Dalam Ayub 1:20 dikatakan,“Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah.” Tindakan mengoyak jubah (wayiqra et-me`ilo) dan mencukur kepalanya (wayagaz et-rosho) merupakan reaksi wajar dari seorang yang sedang berduka. Akar kata kerja “qara” berarti ‘merobek’, sedangkan akar kata “gazaz” berarti ‘mencukur.’ Namun yang istimewa dari Ayub dalam menghadapi situasi ini adalah bahwa dia justru tersungkur ke tanah dan sujud kepada Tuhan “wayipol artsah wayishtakhu.” Terjemahan bahasa Inggrisnya adalah ‘fall to the ground and bow down.’ Akar kata “khawah” berarti ‘to bow down.’

Selanjutnya dalam ayat 21 dikatakan,” katanya: ‘Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!'” Dalam keadaan seperti itu Ayub tetap dapat memuji Tuhan – akar kata “barak” berarti “memberkati.” ‘Blessed be the name of the Lord’(yehi shem ADONAI mevorak). Namun sayang sekali kesalehan Ayub ini tidak didasarkan atas pengenalan yang benar tentang Allah.

Pernyataan “ADONAI nathan, ADONAI laqakh”, yang diterjemahkan — ‘…TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil ,…’ bukan merupakan teologi Alkitab. Pada kenyataannya, Tuhan adalah pemberi damai sejahtera, berkat, keselamatan, kemenangan, kehidupan dst, namun Dia bukan pengambil berkat, damai sejahtera, kesehatan dst. Allah selalu memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya (Mat 7:11). Sebaliknya pengambil itu adalah si iblis yang merupakan pencuri, pembunuh dan pembinasa (Yoh 10:10).

Ini semua menunjukkan bahwa Ayub tidak mempunyai pengertian yang benar tentang Allah, tentunya juga Firman-Nya. Juga dalam pasal 2 ayat 10 yang mengatakan, “Tetapi jawab Ayub kepadanya: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.”

Kepada istrinya Ayub mengatakan “et-hatov neqabel me’et haELOHIM ve’et-hara` lo neqabel” yang menyatakan bahwa Allah memberi kebaikan sekaligus juga memberi keburukan (ra = ‘evil’). Padahal Yeremia 29:11 mengatakan bahwa Allah tidak pernah memberikan keburukan ( raah = ‘evil’).

Allah yang baik tidak pernah memberikan yang buruk dan tidak pernah mengambil hal yang baik dari manusia. Justru sebaliknya Dia mengambil dan menyingkirkan yang buruk dari manusia dan memberikan yang baik kepada manusia.

Yesus sudah menanggung semua dosa manusia dan mengambil alih hukuman yang mengerikan yang seharusnya ditanggung oleh manusia. Sebaliknya Yesus memberikan keselamatan kepada manusia. Yesus sudah menanggung segala sakit penyakit kita di atas salib, dan sebaliknya Dia memberikan kesembuhan bagi manusia yang mau percaya kepada-Nya.
Konsep yang keliru seperti ini terjadi sebagai akibat dari Ayub yang tidak mengenal Allah dengan baik.

Pdt. Dr. Samuel Hosea.

Ayub Yang Saleh (Bag.1-4)

Alkitab memberikan kesaksian bahwa Ayub benar-benar adalah seorang yang saleh. Dalam Ayub pasal 1 ayat 1 dikatakan, “Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.”

Kata ‘saleh’ yang dipakai di sini adalah “tam” yang berarti ‘murni, tidak bercela.’ Kata ini menyatakan suatu kehidupan yang bersih dan sempurna (complete) tanpa cacat di hadapan Allah serta manusia.

Sedangkan kata “yashar” berarti ‘lurus, benar.’ Ini menunjukkan suatu kualitas kehidupan yang tidak bengkok, tapi benar-benar lurus, jujur.

Kemudian kata “wire’ elohim” yang berarti ‘takut akan Allah.’ Kata “wire’ ” ini merupakan bentuk adjective yang berasal dari akar kata “yare’ “ yang berarti “fear.”
Kata ‘takut’ di sini menyatakan kesungguhan dalam menghormati Tuhan. Ketidakberanian untuk melakukan sesuau yang membuat Tuhan sedih.

Selanjutnya “wesar mera`” yang berasal dari akar kata “ra`” dan “sur” berarti ‘menghindari kejahatan atau lari meninggalkan kejahatan.’

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa Ayub adalah seorang yang ‘saleh, jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.’ Tiga kali hal ini ditampilkan (1:1,8; 2:3) untuk menunjukkan betapa salehnya kehidupan Ayub tersebut.

Ayub mempunyai suatu kualitas kehidupan yang bisa membuat Tuhan bangga, sekalipun ini tidak berarti bahwa Ayub tidak bisa berbuat kesalahan. Sebagai manusia Ayub juga tidak lepas dari kelemahan ataupun kekurangan, akan tetapi dia senantiasa berusaha menjaga kehidupannya agar tidak melanggar ketetapan-ketetapan Allah. Ayub selalu menghindari hal-hal yang merupakan kejahatan, tentunya ini sesuatu yang disukai iblis tapi yang tidak disukai Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan benar-benar bangga dengan Ayub bahkan dua kali dicatat bagaimana Tuhan menyatakan betapa salehnya Ayub tersebut (1:8 & 2:3).

Ketetapan Allah adalah untuk ditaati. Jikalau ketetapan Allah tidak lagi diindahkan maka tidak akan ada lagi gunanya, malah akan mendatangkan hukuman dalam kehidupan manusia. Sekalipun Ayub mengetahui tentang Allah termasuk juga peraturan-peraturan-Nya hanya dari kata orang saja, namun dia tetap berusaha mentaati dengan sebaik-baiknya.

Dalam pasal 42 ayat 5 Ayub mengaku di hadapan Tuhan bahwa dia mengenal tentang Allah hanya dari kata orang saja. Terjemahan aslinya mengatakan “leshema-ozen shematika.” Kata “shema” yang dipakai di sini berarti “report, tidings.”(ref. Kej 29:13; Kel 23:1; Mzm 18:45).
Sekalipun Ayub mendapatkan informasi hanya melalui laporan (report), mendengar peraturan Allah hanya dari kata orang, akan tetapi toh dia tetap mau mentaatinya, sehingga dapat menjaga kehidupan yang tetap saleh di hadapan Tuhan.

Taat kepada ketetapan Allah itu sangat penting. Itulah sebabnya marilah kita benar-benar mau mentaati Firman Allah.

Pdt. Dr. Samuel Hosea.

Sistem Disiplin Dalam “On-Time”

Ketika saya masih studi di sekolah Alkitab di Surabaya, kami memiliki seorang dosen yang benar-benar disiplin dalam waktu dimulainya kelas, khususnya dalam hal On-Time. Sampai-sampai murid yang datang terlambat kuliah untuk mengikuti kelas tidak dijinkan untuk masuk. (termasuk saya yang pernah mengalaminya. :D) Saya ingat dosen saya ini berkata bahwa terlalu banyak mahasiswa Alkitab yang tidak disiplin dalam hal berkuliahnya; datang suka terlambat. Saat itu saya benar-benar tertegur.

Hanya, terlalu sering setiap waktu pelajaran yang semestinya sudah selesai, dosen saya masih terus mengajar.. bahkan pernah sampai setengah jam lewat dari waktunya. Waktu itu saya berpikir, apakah yang dinamakan On-Time adalah hanya waktu mulai kuliahnya saja sedangkan jika waktu selesai itu tidak termasuk dalam On-Time.

Saya dulu pernah berpikir ketika menonton film, mengapa sekolah-sekolah di luar negeri, di Amerika contohnya, ketika jam pelajaran sudah selesai selalu membunyikan Ring-Bell dan walaupun guru masih menjelaskan mata pelajarannya yang belum selesai, namun saat itu juga guru harus mengakhiri sesi belajar tersebut?

Suatu ketika saya berkunjung ke salah satu Elementry School di kota Iowa City dan bertanya dengan salah satu staf sekolah tersebut tentang hal ini dan ia mengatakan: “Ini hanya bagian kecil dari sistem disiplin yang ada di sekolah-sekolah.” “Sistem disiplin.. wiiih”.. pikir saya.

Artinya sebagus apapun sistem yang ada, jika tidak diterapkan dengan baik (disiplin), akan merusak sistem yang sudah diterapkan didalamnya. Sebagai contoh, di gereja lokal kami, pemimpin rohani kami mengajarkan untuk tepat waktu dalam hal beribadah. Apalagi jadwal ibadah di gereja lokal kami saat ini ada tiga kali pertemuan ibadah, jam tujuh pagi, sembilan, dan sepuluh. Biasanya kami selesai On-Time (tidak melebihi jam yang sudah ada di dalam sistem yang diberikan) dalam setiap pertemuan ibadah supaya jam ibadah berikutnya boleh berjalan sesuai tepat waktu. Sistem disiplin ini mensuport terciptanya visi yang diharapkan oleh pemimpin rohani di gereja lokal kami. Andai saja sistem disiplin ini diabaikan, misalnya saja ibadah yang diadakan jam tujuh atau yang jam sembilan sering molor waktu selesainya, tanpa disadari (dibawah alam sadar) jemaat bisa jadi berpikir.. “toh kebaktian yang sebelumnya belum selesai.. untuk apa saya datang On-Time.”

Saya jadi mengerti, bahwa di dalam setiap sistem ada yang namanya awal dan yang namanya akhir. Dimanapun, harapan seratus persen untuk menjalankan sistem disiplin tepat waktu ini sulit untuk dicapai. Masih banyak anak sekolah yang datang terlambat ke sekolah, masih banyak pegawai yang datang terlambat ke tempat kerja mereka, masih banyak jemaat gereja yang datang terlambat mengikuti kebaktian di gereja mereka.

“Ehmm…. sudah ada sistem disiplin saja hasilnya masih begini.. apalagi kalo tidak ada..” pikir saya.

(1 Korintus 14:40)

Roy Rampengan

Bangun & Bangkitlah

“Bangun dan bangkitlah! Kristus bercahaya atasmu,” (Efesus 5:14),

Saudara yang terkasih, kata-kata diatas merupakan tema sidang Raya Gereja Allah Baik II. Melalui tema ini, sesungguhnya Allah mengurapi dan memakai para hamba-hamba-Nya untuk mengajak kita sebagai jemaat Tuhan supaya segera bangun dan bangkit bagi Kristus.

Allah tidak mau anda tertidur sebab orang yang tertidur, mata rohaninya tertutup, sehingga ia tidak dapat melihat kemuliaan Allah yang sedang tersedia didepannya. Ketajaman untuk mampu melihat rencana Allah dan kemuliaanNya yang akan datang membuat kita melangkah tanpa keraguan dan penuh keyakinan. Sedangkan ‘kebutaan’ akan membuat anda tersandung, jatuh dan melangkah tanpa tujuan. Tidur yang berkelanjutan akan mengarah pada kematian secara fisik dan rohani.Tertidur secara rohani ditandai dengan: percabulan, rupa-rupa kecemaran, keserakahan, perkataan kotor/kosong/sembrono, persundalan, penyembahan berhala yang pada akhirnya membawa pada kebinasaan (kematian).

Itulah sebabnya Firman Allah menyatakan “tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut sajapun jangan diantara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus. Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono – karena hal-hal ini tidak pantas – tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur. Ingatlah ini baik-baik; tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala yang mendapat bagian didalam kerajaan Kristus dan Allah. Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka” (Efesus 5:3-6)

Oleh sebab itu saudaraku, bangun dan bangkitlah supaya Kristus bercahaya atas kamu. Orang yang bangun dan bangkit bagi Kristus akan bercahaya untuk memancarkan kemuliaan Allah; hidup taat secara total pada Firman Allah, penuh kasih, suka berkorban, senantiasa mengucap syukur, baik, adil, mencintai kebenaran, bukan pemabuk, rendah hati, serta mengerti kehendak Allah.

Saudaraku yang terkasih, Firman Allah mengatakan: “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakan waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu,tetapi kehendak Allah kamu penuh dengan Roh.” (Efesus 5:15-18).

Dengan kita bangun dan bangkit, maka Gereja Allah Baik dapat melayani dengan kuasa Roh Kudus seperti visi yang sudah Tuhan berikan. Dan saya percaya, kita semua akan bercahaya memancarkan kemuliaan Allah. Amin.

Pdt. Ardian Sabar.

Gaya Hidup Mewah (Hedonisme)

Baru saja saya membaca beberapa artikel berita di beberapa media eletronik mengenai gaya hidup mewah atau yang juga disebut hedonisme. Dan juga saya tidak melewatkan membaca komentar dari para pembaca yang ada.. dan mayoritas.. lebih dari 90 %.. mereka tidak sependapat dengan gaya hidup mewah yang dimiliki oleh orang-orang yang duduk di dalam jabatan yang berhubungan dengan rakyat.

Saya tertarik untuk menulis catatan-catatan kecil atas topik gaya hidup mewah ini. Beberapa orang pernah bertanya kepada saya apakah kita sebagai orang Kristen harus kaya? Saya jawab: “Harus. Kaya secara rohani.” Beberapa mereka bingung atas jawaban saya.. “Heh?.. kalo kaya materi?” Saya jawab: “Boleh banget.. tapi tidak harus!”

Orang Kristen itu luas…yang memiliki profesi yang bermacam-macam.. ada yang pengusaha ada yang pegawai kantoran, ada yang pegawai negeri, ada yang pendeta, dan sebagainya.

Delapan bulan yang lalu, di Surabaya, seorang yang kaya mengundang saya ke rumah mereka untuk berdoa bersama di tengah-tengah keluarga mereka. Setelah berdoa, kami makan malam bersama-sama dan bercerita-cerita.. sampai-sampai akhirnya kami malah membahas mengenai topik “Kaya”.

“Jika Bapak mengaku seorang Pengusaha yang sukses, namun kenyataannya Bapak kemana-mana pakai sepeda ontel atau sepeda motor butut.. apakah orang akan percaya bahwa Bapak adalah seorang Pengusaha yang sukses? Orang melihat Kesuksesan seorang Pengusaha itu dari materinya.” Jawab saya menjawab pertanyaan saya sendiri. “Tidak peduli Bapak memiliki agama apa, orang akan percaya dan menghargai bapak sebagai seorang Pengusaha sukses di ukur oleh tingkat materi yang Bapak miliki.”

“Orang akan percaya kepada Bapak yang mengaku sebagai seorang Rohaniwan dilihat dari apanya? Dari materinya atau rohaninya?” tanya saya disela-sela diskusi kami. Sambil berpikir Bapak itu menjawab: “Ehmm…… (yang cukup panjang)”. Saya kenal seorang Pengusaha yang sukses dan memiliki rohani yang baik (baca: cinta Tuhan). Beberapa orang yang juga mengenalnya berkata:  “Wah.. sudah Pengusaha sukses, cinta Tuhan lagi.”  Saya melihat bagaimanapun.. profesi seseoranglah yang menjadi nilai utama, sedangkan faktor lainnya adalah nilai tambahan saja yang bisa meningkatkan nilai seseorang di tengah masyarakat. Seperti hal-nya seorang Rohaniwan, orang akan percaya dan menghargai profesi mereka dengan menilai kehidupan rohani mereka.. bukan materi mereka.. walaupun tanpa dipungkiri bahwa seorang Rohaniwan juga memiliki kesempatan yang besar untuk memiliki kekayaan secara materi.

“Kaya” dan “Gaya Hidup Mewah” adalah 2 (dua) hal yang jelas berbeda.. artinya, orang kaya tidak harus bergaya hidup mewah. Mengapa? Sebab orang-orang seperti ini mengerti jelas profesi mereka di tengah-tengah masyarakat. Mereka tahu & sadar akan Nilai & Etika Moral Bermasyarakat.

Seorang Pengusaha yang sukses membeli rumah mewah dan mobil yang mewah dan juga bergaya hidup mewah adalah hal yang wajar.. namun jika seorang Rohaniwan atau Tokoh Masyarakat luas.. namun memiliki kekayaan secara materi yang banyak dan bergaya hidup mewah?

Saya percaya kita menghargai Mother Teresa, Sri Paus, Billy Graham, ataupun Tokoh Agama lainnya karena hidup kerohanian yang mereka teladankan kepada kita.. dan mereka tidak pernah meneladankan kehidupan materi mereka.

Nah.. tanpa disadari.. saat ini ada banyak pengajaran “rohani” yang justru meneladankan kehidupan materi atau status sosial daripada kerohanian itu sendiri. Dengan kata lain, membuat banyak orang untuk menjadikan materi atau harta benda menjadi sebuah kebanggaan diri dan menjadi salah satu ukuran dalam kerohanian seseorang di pandangan masyarakat.

Sebagai contoh.. tanpa dipungkiri ada banyak institusi-institusi agama yang sudah tidak jelas visi & pengajaran yang diberikannya. Bagi saya, jika anda ingin mendapat pengetahuan untuk menjadi kaya secara materi, ikutilah seminar-seminar Pengusaha sukses, atau sejenisnya, dan itu ada banyak dimana-mana.. bukan di institusi agama. Di sekolah-sekolah umum saja jelas pembagiannya; ada kelas Matematika, ada kelas Bahasa Indonesia, ada kelas Fisika, dan sebagainya. Apakah wajar jika anda mengikuti kelas Matematika, namun yang diajarkan di dalam kelas itu adalah materi Bahasa Indonesia?

Pencampur-adukkan inilah yang membuat orang bingung dan menilai sesuatu dengan tidak benar. Di gereja, pengajaran tentang Kaya dan Berkat yang bias dan bahkan cenderung..  ngawur ini.. berakibat tidak sedikit orang Kristen yang kaya secara materi menilai orang Kristen yang miskin secara materi berarti tidak diberkati.

Hal inilah yang membuat banyak kita sebagai orang Kristen lupa siapa diri kita. Sampai-sampai kita menilai pendeta yang tidak kaya secara materipun dikatakan pendeta yang tidak diberkati. Saya mengatakan.. pencampur-adukkan ajaran-ajaran ini pada tempat yang tidak tepat akan mengakibatkan ketidak-jelasan identitas seseorang di tengah-tengah masyarakat.. artinya menjadikan kita lupa profesi kita yang sesungguhnya di tengah-tengah masyarakat.

So this is my point.. kalo ingin bergaya hidup mewah.. janganlah berprofesi menjadi Rohaniwan atau Tokoh Masyarakat.. jadilah Pengusaha, Artis, atau yang lainnya. And.. orang yang hidup penuh kelimpahan tidak berarti bergaya hidup mewah bukan?

(Mazmur 112:3; Amsal 3:16; Amsal 22:4; Yehezkiel 28:4; 1 Timotius 6:17; Filipi 4:19)

Roy Rampengan

Menyembah dalam Roh & Kebenaran

(Yohanes 4:21-24)

Penyembahan adalah ekspresi hati seseorang berwujud kasih,pemujaan, dan pujian kepada Tuhan dengan sikap dan pengakuan akan keagungan dan ke TuhananNya. Banyak dari kita hari-hari ini rindu menuju tempat penyembahan tapi hati kita belum sepenuhnya dipersiapkan.

Dalam Yohanes 4:23-24, Firman Tuhan berkata: “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.

Allah itu Roh dan barang siapa menyembah Dia, harus menyembahNya dalam roh kebenaran.”

Hal yang dicari Allah pada waktu dan masa ini adalah penyembah yang benar.Menyembah dalam Roh berarti mengijinkan Roh Kudus menguasai mulut kita dalam penyembahan kepada Allah, dan saat kita menyembah tidak terikat pada waktu dan tempat. Kata menyembah dalam bagian ayat ini memiliki akar kata yang penting, yaitu “mengambil keuntungan dari kedekatan.”, yang juga berarti “mencium tangan dengan penuh hormat.”

Jadi yang Allah cari adalah agar kita mendekat padaNya  dalam ketulusan hati yang hanya muncul dari sebuah proses persiapan saat hati kita telah siap, kita dapat mengambil keuntungan dari kedekatan kita. Kita dapat mencium tanganNya dengan rasa hormat dan kita dapat mengijinkan Roh Allah melayani kita.

Menyembah dalam kebenaran berarti menyembah melalui pengenalan akan Tuhan Yesus Kristus dan menyembah berdasarkan cara yang diajarkan Firman Tuhan. Kata “benar” dalam bahasa aslinya berarti “yang asli dan tulus.” Tindakan kerendahan hati, pertobatan, doa dan iman menunjukkan ketulusan hati kita.

Sebagai umat tebusanNya apakah hari-hari ini kita sudah memberikan waktu kita untuk datang memuji dan menyembah Dia? Allah sangat merindukan melakukan perkara yang dahsyat dalam penyembahan kita. Ia memberikan ijin untuk kita dapat mendekat padaNya di tempat keintiman. Dan Ia sedang mencari hati seorang penyembah. Dan penyembah itu adalah kita umatNya.

Penyembahan menyingkapkan hati kita dan seorang penyembah adalah seseorang yang telah menetapkan sikap hatinya kepada Tuhan. Sebagai umat yang dikasihiNya marilah bersama kita memberikan yang terbaik untuk Tuhan melalui setiap pujian , penyembahan, dan hidup kita agar menjadi persembahan yang hidup dan menyenangkan hati Tuhan. Amin.

JADILAH SEORANG PEMUJI DAN PENYEMBAH BAGI ALLAH KITA

Penulis : Ev. Tabita Rachman S.Th.

Kerendahan Hati

EFESUS 4:2a : Hendaklah kamu selalu rendah hati

Manusia mempunyai satu tingkat kesulitan yang besar untuk hidup dalam kerendahan hati. Hal ini terjadi karena manusia cenderung cepat berpuas diri akhirnya mudah sekali untuk meninggikan diri.Kadang mudah bagi kita berbicara tentang kerendahan hati, tetapi tidak mudah untuk dilaksanakan dalam kehidupan secara praktis sebagai anak Tuhan. Hanya Yesuslah satu-satunya yang memiliki kerendahan hati. Bukti kerendahan hati Tuhan Yesus “Ketika  Ia mau menjadi manusia demi mempersatukan kita dengan Dia dan dengan penuh kebebasan kita dapat menghampiri tahta kasih karuniaNya.meskipun sebenarnya kita tidak layak dihadapanNya.”

Seringkali penyebab perselisihan karena komunikasi yang kurang memiliki kerendahan hati. Kita maunya selalu yang terhebat tanpa kita sadari kita telah sombong dalam hal komunikasi. Intinya sederhana, Kita tidak mau kalah. Dan tidak salah kalau ada suku antar suku yang bertikai. Semua terjadi karena tidak adanya kerendahan hati diantara manusia. Padahal kerendahan hati dapat menyelesaikan segala pertentangan maupun masalah apapun.Sebagai anak Tuhan, kita jangan pernah berpikir  bahwa kerendahan hati akan menjatuhkan harga diri kita. Karena harga diri kita ditentukan dari sikap kerendahan hati.

Sebagai umat yang dikasihiNya, kita perlu meneladani pribadi Tuhan Yesus dalam hal kerendahan hati.Tuhan Yesus sudah membuktikan bahwa kerendahan hati akan membawa kedamaian. Menjadi pribadi yang rendah hati, bukan hal yang mudah. Namun dengan pertolongan Roh Kudus, kita diberi kesanggupan untuk belajar melakukannya. Apa jadinya jika dalam hidup kita tidak memiliki kerendahan hati? Kita akan merasa kitalah yang terhebat, kita merasa mampu melakukan segala sesuatu didalam pekerjaan, didalam pelayanan dengan mengandalkan kekuatan kita sendiri dan timbulah kesombongan dalam hidup kita. Tuhan tidak pernah menginginkan kita menjadi pribadi yang tidak memiliki kerendahan hati. Kerinduan hati Tuhan dalam hidup kita adalah agar kita memiliki kerendahan hati. Sudakah kita memiliki kerendahan hati dalam hidup kita?

Sebagai orang percaya, mari kita buang ego kita dan meneladani  Tuhan Yesus yang memiliki kerendahan hati yang sempurna itu.

KERENDAHAN HATI MEMBUAT ALLAH RESPEK PADA KITA

Penulis : Ev. Tabita Rachman S.Th.

KERENDAHAN HATI MEMBUAT ALLAH RESPEK PADA KITA

Berdoa dan Rendah Hati

1 Tesalonika 5:17,1 Petrus 3:8

Salomo diurapi menjadi raja pada tahun-tahun terakhir pemerintahan Daud, ayahnya. Ada satu pesan indah yang disampaikan Daud kepada Salomo, “Apabila seseorang memerintah manusia dengan adil dengan takut akan Allah, ia bersinar seperti fajar di waktu pagi hari, pagi yang tidak berawan, yang sesudah hujan membuat berkilauan rumput mudah di tanah.(2 Samuel 23:3-4). Salomo pun mengikuti petunjuk ayahnya, karena Allah telah menyertai ayahnya.

Waktu Salomo berdoa ia menunjukkan kerendahan hati dan kerinduannya untuk menghormati Allah. Salomo menyadari tanpa pertolongan Tuhan, ia tidak mampu untuk menunaikan tanggung jawab yang besar di pundaknya. Ia tidak cukup memiliki keterampilan, maka ada suatu perasaan akan kebutuhan yang besar membawa ia mencari Allah agar memperoleh hikmat. Dalam hati Salomo tidak tersembunyi perasaan mementingkan diri sehingga Tuhan selalu menjawab doanya.

Roma 2:11 menuliskan bahwa Allah tidak memandang bulu. Ia yang mengaruniakna roh kebijaksanaan yang terampil kepada Salomo, juga akan membagikan berkat yang sama kepada kita orang percaya yang mau merendahkan diri dihadapan Tuhan. Tuhan selalu mendengar doa Salomo bahkan di berikan lebih dari yang di doakan (Efesus 3:10). Selain di berikan hikmat dan kebijaksanaan Tuhan juga memberikan kekayaan dan kemuliaan bahkan ada satu janji panjang umur dianugerahkan kepada Salomo jika ia tetap setia berjalan di dalam Tuhan. Suatu berkat yang indah dan luar biasa yang di miliki oleh Salomo.

Jalan orang yang diangkat menjadi pemimipin bukanlah jalan yang mudah. Namun Tuhan membuktikan penyertaanNya kepada Salomo seperti Tuhan menyertai kepemimpinan Daud ayah Salomo.

Jemaat yang di kasihi Tuhan, panggilan untuk berdoa dan merendahkan diri harus senantiasa ada dalam hidup setiap kita orang percaya dan Tuhan pun akan meninggikan kita seperti burung rajawali, indah pada waktunya.

TETAPLAH BERDOA SENANTIASA DAN RENDAH HATI

Penulis : Ev. Tabita Rachman,S.Th