Menghormati Tuhan (bagian 15)

hormati-Tuhan-image

Yosia merupakan raja terakhir yang sungguh-sungguh mau menghormati Tuhan. Sebab raja-raja yang memerintah setelah dia di Israel Selatan tidak lagi hidup menghormati Tuhan. 2 Tawarikh 34:1-3 mencatat, ” 1Yosia berumur delapan tahun pada waktu ia menjadi raja dan tiga puluh satu tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. 2 Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN dan hidup seperti Daud, bapa leluhurnya, dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri. 3 Pada tahun kedelapan dari pemerintahannya, ketika ia masih muda belia, ia mulai mencari Allah Daud, bapa leluhurnya, dan pada tahun kedua belas ia mulai mentahirkan Yehuda dan Yerusalem dari pada bukit-bukit pengorbanan, tiang-tiang berhala, patung-patung pahatan dan patung-patung tuangan.”

Yosia merupakan seorang raja yang reformatoris, dialah yang melakukan reformasi-reformasi di kerajaan Yehuda.

Dalam tahun ke delapan pemerintahannya dia mulai mereformasi kehidupan rohani, yakni persekutuannya dengan Allah. Ini dicatat dalam ayat 3 yang dalam bahasa Ibrani diekspresikan: “hekhel lideros le’lohe dawid abiw ( wybi_a’ dywIåDyheÞl{ale vAr§d>li lxe§he)” Hal ini menyatakan bagaimana dia mengarahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan saja.

Dalam tahun ke duabelas dia mulai mereformasi penyembahan kepada Tuhan dengan mentahirkan kerajaannya dari segala bentuk penyembahan berhala. Dia membersihkan kerajaannya dari segala objek penyembahan yang bukan kepada Tuhan yang hidup. Dalam bahasa Ibrani diekspresikan “hekhel letaher et yehuda wirushalayim min habamoth weha’asherim wehapesilim wehamasekot  (`tAk)SeM;h;w>  ~yliÞsiP.h;w> ~yrIêvea]h’äw>  tAmB’h;-!mi ~ØIl;êv’WråywI ‘hd”Why>-ta, rheêj;l. ‘lxehe )”

Dalam tahun ke delapan belas dia mulai mereformasi peribadahan di Bait Allah dengan lebih dulu merestorasi Bait Allah. Hal ini dicatat dalam ayat 8, “8 Pada tahun kedelapan belas dari pemerintahannya, setelah selesai mentahirkan negeri dan rumah TUHAN, ia menyuruh Safan bin Azalya, dan Maaseya, penguasa kota, serta Yoah bin Yoahas, bendahara negara, untuk memperbaiki rumah TUHAN, Allahnya.” Ayat-ayat selanjutnya mencatat bagaimana para tukang dan pekerja diperintahkannya untuk melaksanakan perbaikan Bait Suci. Dalam ayat 14 diceritakan bahwa ketika pekerjaan perbaikan sedang dilakukan maka ditemukanlah gulungan Torah. ” 14 Ketika mereka mengeluarkan uang yang telah dibawa ke rumah TUHAN, imam Hilkia menemukan kitab Taurat TUHAN, yang diberikan dengan perantaraan Musa. 15 Maka berkatalah Hilkia kepada Safan, panitera negara itu: “Aku telah menemukan kitab Taurat di rumah TUHAN!” Lalu Hilkia memberikan kitab itu kepada Safan, 16 dan Safan membawa kitab itu kepada raja. Ia juga menyampaikan kabar kepada raja: “Segala sesuatu yang ditugaskan kepada hamba-hambamu, telah mereka laksanakan.” Setelah Yosia mengetahui hal ini maka dia mengumpulkan semua orang sebagaimana yang dicatat dalam ayat 30-33, ” 30 Kemudian pergilah raja ke rumah TUHAN bersama-sama semua orang Yehuda dan penduduk Yerusalem, para imam, orang-orang Lewi, dan seluruh orang awam, baik yang besar maupun yang masih kecil. Dengan didengar mereka ia membacakan segala perkataan dari kitab perjanjian yang ditemukan di rumah TUHAN itu. 31 Sesudah itu berdirilah raja pada tempatnya dan diikatnyalah perjanjian di hadapan TUHAN untuk hidup dengan mengikuti TUHAN, dan tetap menuruti perintah-perintah-Nya, peraturan-peraturan-Nya dan ketetapan-ketetapan-Nya dengan segenap hatinya dan dengan segenap jiwanya dan untuk melakukan perkataan perjanjian yang tertulis dalam kitab itu. 32 Ia menyuruh semua orang yang berada di Yerusalem dan Benyamin ikut serta dalam perjanjian itu. Dan penduduk Yerusalem berbuat menurut perjanjian Allah, yakni Allah nenek moyang mereka. 33 Yosia menjauhkan segala dewa kekejian dari semua daerah orang Israel dan menyuruh semua orang yang ada di Israel beribadah kepada TUHAN, Allah mereka. Maka sepanjang hidup Yosia mereka tidak menyimpang mengikuti TUHAN, Allah nenek moyang mereka.”

Selanjutnya Yosia mulai lagi merayakan Paskah seperti yang dicatat dalam pasal 35:1, “Kemudian Yosia merayakan Paskah bagi TUHAN di Yerusalem. Domba Paskah disembelih pada tanggal empat belas bulan yang pertama.”

Dalam menghormati Tuhan, maka hubungan kita dengan Tuhan haruslah beres, kemudian penyembahan kepada Tuhan haruslah yang terutama dalam hidup kita.

Menghormati Tuhan (bagian 14)

hormati-Tuhan-image

2 Raja-raja 18:1-8 mencatat, “1 Maka dalam tahun ketiga zaman Hosea bin Ela, raja Israel, Hizkia, anak Ahas raja Yehuda menjadi raja. 2 Ia berumur dua puluh lima tahun pada waktu ia menjadi raja dan dua puluh sembilan tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Abi, anak Zakharia. 3 Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN, tepat seperti yang dilakukan Daud, bapa leluhurnya. 4 Dialah yang menjauhkan bukit-bukit pengorbanan dan yang meremukkan tugu-tugu berhala dan yang menebang tiang-tiang berhala dan yang menghancurkan ular tembaga yang dibuat Musa, sebab sampai pada masa itu orang Israel memang masih membakar korban bagi ular itu yang namanya disebut Nehustan. 5 Ia percaya kepada TUHAN, Allah Israel, dan di antara semua raja-raja Yehuda, baik yang sesudah dia maupun yang sebelumnya, tidak ada lagi yang sama seperti dia. 6 Ia berpaut kepada TUHAN, tidak menyimpang dari pada mengikuti Dia dan ia berpegang pada perintah-perintah TUHAN yang telah diperintahkan-Nya kepada Musa. 7 Maka TUHAN menyertai dia; ke manapun juga ia pergi berperang, ia beruntung. Ia memberontak kepada raja Asyur dan tidak lagi takluk kepadanya. 8 Dialah yang mengalahkan orang Filistin sampai ke Gaza dan memusnahkan daerahnya, baik menara-menara penjagaan maupun kota-kota yang berkubu.” Melalui catatan Firman Tuhan ini jelas terbukti bahwa orang yang menghormati Tuhan akan disertai-Nya dan menikmati keberhasilan. Sementara bagi kerajaan Israel Utara pada masa Hizkia inilah mereka justru dihancurkan oleh Asyur. Dalam 2 Raja-raja 18:9-12 dicatat, “9 Dalam tahun keempat zaman raja Hizkia itulah tahun ketujuh zaman Hosea bin Ela, raja Israel majulah Salmaneser, raja Asyur, menyerang Samaria dan mengepungnya. 10 Direbutlah itu sesudah lewat tiga tahun; dalam tahun keenam zaman Hizkia itulah tahun kesembilan zaman Hosea, raja Israel direbutlah Samaria. 11 Raja Asyur mengangkut orang Israel ke dalam pembuangan ke Asyur dan menempatkan mereka di Halah, pada sungai Habor, yakni sungai negeri Gozan, dan di kota-kota orang Madai, 12 oleh karena mereka tidak mau mendengarkan suara TUHAN, Allah mereka, dan melanggar perjanjian-Nya, yakni segala yang diperintahkan oleh Musa, hamba TUHAN; mereka tidak mau mendengarkannya dan tidak mau melakukannya.”

Jelas sekali terlihat di sini perbedaan antara orang yang menghormati Tuhan dengan mereka yang tidak menghormati Tuhan. Raja Hizkia benar-benar hidup menghormati Tuhan. Dalam ayat 5 tadi malah dicatat bagaimana sebelum dan sesudah Hizkia tidak ada yang sama seperti dia. Bahkan dalam zaman Hizkia inilah perayaan Paskah mulai dilaksanakan kembali. Ini dicatat dalam 2 Tawarikh 30:1,”Kemudian Hizkia mengirim pesan kepada seluruh Israel dan Yehuda, bahkan menulis surat kepada Efraim dan Manasye supaya mereka datang merayakan Paskah bagi TUHAN, Allah orang Israel, di rumah TUHAN di Yerusalem.”

Hizkia menyadari betul bahwa kehidupan yang tidak menghormati Tuhan hanya akan menyusahkan diri sendiri saja. Hal ini dikemukakannya secara jelas sebagaimana dicatat dalam 2 Tawarikh 29:6-10, ” 6 Karena nenek moyang kita telah berubah setia. Mereka melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, Allah kita, telah meninggalkan-Nya, mereka telah memalingkan muka dari kediaman TUHAN dan membelakangi-Nya. 7 Bahkan mereka menutup pintu-pintu balai rumah TUHAN dan memadamkan segala pelita. Mereka tidak membakar korban ukupan dan tidak mempersembahkan korban bakaran bagi Allah orang Israel di tempat kudus, 8 sehingga murka TUHAN menimpa Yehuda dan Yerusalem. Ia membuat mereka menjadi kengerian, kedahsyatan dan sasaran suitan seperti yang kamu lihat dengan matamu sendiri. 9 Karena hal itulah nenek moyang kita tewas oleh pedang, dan anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan kita beserta isteri-isteri kita menjadi tawanan. 10 Sekarang aku bermaksud mengikat perjanjian dengan TUHAN, Allah Israel, supaya murka-Nya yang menyala-nyala itu undur dari pada kita.”

Orang yang menghormati Tuhan adalah seorang yang mau belajar, seperti Hizkia dia mempelajari apa saja yang tidak berkenan di hadapan Tuhan yang kemudian mengakibatkan segala malapetaka itu terjadi. Selanjutnya Hizkia menetapkan untuk setia kepada Tuhan dengan segenap hati.

Marilah kita terus mau belajar untuk semakin menghormati Tuhan, maka Tuhan akan bertindak untuk menyatakan kebaikan-Nya pada kita.

 

Menghormati Tuhan (bagian 12)

hormati-Tuhan-image

Semua yang diterima Yosafat dari Tuhan terjadi karena Yosafat sungguh-sungguh hidup menghormati Tuhan.

  1. Yosafat hidup menurut jejak pendahulunya yang hidup takut akan Tuhan. Dalam pasal 17:3 dikatakan, “3 Dan TUHAN menyertai Yosafat, karena ia hidup mengikuti jejak yang dahulu dari Daud, bapa leluhurnya, dan tidak mencari Baal-baal, ” Pasal 20:32 mencatat, ” 32 Ia hidup mengikuti jejak Asa, ayahnya; ia tidak menyimpang dari padanya, dan melakukan apa yang benar di mata TUHAN.”
  2. Yosafat selalu mencari Tuhan. Dalam pasal 17:4 dicatat,”4 melainkan mencari Allah ayahnya. Ia hidup menurut perintah-perintah-Nya dan tidak berbuat seperti Israel.” Dia tidak mencari allah lain (ay 3).
  3. Yosafat selalu taat kepada Tuhan. Dalam pasal 17:6 dikatakan, “6 Dengan tabah hati ia hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN. Pula ia menjauhkan dari Yehuda segala bukit pengorbanan dan tiang berhala.” Bahkan ketika ditegur karena melakukan kesalahan Yosafat tidak sakit hati, namun tetap setia kepada Tuhan. Dalam pasal 19:2-3 dicatat, ” 2 Ketika itu Yehu bin Hanani, pelihat itu, pergi menemuinya dan berkata kepada raja Yosafat: “Sewajarnyakah engkau menolong orang fasik dan bersahabat dengan mereka yang membenci TUHAN? Karena hal itu TUHAN murka terhadap engkau. 3 Namun masih terdapat hal-hal yang baik padamu, karena engkau menghapuskan tiang-tiang berhala dari negeri ini dan mencari Allah dengan tekun.”” Yosafat tetap menginstruksikan para pegawainya agar tetap hidup menghormati Tuhan, seperti yang dicatat dalam ayat 9, ” 9 Ia memerintahkan mereka: “Kamu harus bertindak dengan takut akan TUHAN, dengan setia dan dengan tulus hati, demikian: …” “
  4. Yosafat mengajar rakyatnya untuk menghormati Tuhan. Dalam pasal 17:7-9 dikatakan, “7 Pada tahun ketiga pemerintahannya ia mengutus beberapa pembesarnya, yakni Benhail, Obaja, Zakharia, Netaneel dan Mikha untuk mengajar di kota-kota Yehuda. 8 Bersama-sama mereka turut juga beberapa orang Lewi, yakni Semaya, Netanya, Zebaja, Asael, Semiramot, Yonatan, Adonia, Tobia dan Tob-Adonia disertai imam-imam Elisama dan Yoram. 9 Mereka memberikan pelajaran di Yehuda dengan membawa kitab Taurat TUHAN. Mereka mengelilingi semua kota di Yehuda sambil mengajar rakyat.” Yosafat benar-benar menjaga kehidupan rakyatnya agar selalu menghormati Tuhan. Dalam pasal 19:4 dikatakan, ” 4 Yosafat diam di Yerusalem. Ia mengadakan kunjungan pula ke daerah-daerah, dari Bersyeba sampai ke pegunungan Efraim, sambil menyuruh rakyat berbalik kepada TUHAN, Allah nenek moyang mereka.”
  5. Yosafat selalu mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Dia selalu mencari pertolongan hanya dari Tuhan saja. Pasal 20:1-3 mengatakan, ” 1 Setelah itu bani Moab dan bani Amon datang berperang melawan Yosafat bersama-sama sepasukan orang Meunim. 2 Datanglah orang memberitahukan Yosafat: ” Suatu laskar yang besar datang dari seberang Laut Asin, dari Edom, menyerang tuanku. Sekarang mereka di Hazezon-Tamar,” yakni En-Gedi. 3 Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari TUHAN. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa.” Dalam keadaan terjepit Yosafat selalu lari kepada Tuhan untuk meminta pertolongan kepada-Nya. Pasal 18:31-32 menceritakan bagaimana Yosafat berseru kepada Tuhan ketika sedang dikepung oleh pasukan Aram, ” 31 Segera sesudah para panglima pasukan kereta itu melihat Yosafat, mereka berkata: “Itu raja Israel!” Lalu mereka mengepung dia, untuk menyerang dia, tetapi Yosafat berteriak dan TUHAN menolongnya. Allah membujuk mereka pergi dari padanya. 32 Segera sesudah para panglima pasukan kereta itu melihat, bahwa dia bukanlah raja Israel, maka undurlah mereka dari padanya.”

Melalui kehidupan Yosafat ini kita bisa belajar bagaimanakah hidup menghormati Tuhan itu.

Menghormati Tuhan (bagian 11)

hormati-Tuhan-image

Hasil dari kehidupan yang menghormati Tuhan dapat dilihat dalam kehidupan raja Yosafat. Dalam 2 Tawarikh 17:1-6 dicatat, “1Maka Yosafat, anaknya, menjadi raja menggantikan dia. Sebagai pemimpin Israel ia memperkuat dirinya 2 dengan menempatkan tentara di semua kota yang berkubu di Yehuda dan pasukan-pasukan pendudukan di tanah Yehuda serta di kota-kota Efraim yang direbut oleh Asa, ayahnya. 3 Dan TUHAN menyertai Yosafat, karena ia hidup mengikuti jejak yang dahulu dari Daud, bapa leluhurnya, dan tidak mencari Baal-baal, 4 melainkan mencari Allah ayahnya. Ia hidup menurut perintah-perintah-Nya dan tidak berbuat seperti Israel. 5 Oleh sebab itu TUHAN mengokohkan kerajaan yang ada di bawah kekuasaannya. Seluruh Yehuda memberikan persembahan kepada Yosafat, sehingga ia menjadi kaya dan sangat terhormat.6 Dengan tabah hati ia hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN. Pula ia menjauhkan dari Yehuda segala bukit pengorbanan dan tiang berhala.”

Yosafat melakukan bagiannya yakni menghormati Tuhan, itulah sebabnya Tuhan berkarya dalam hidupnya.

Tuhan melakukan bagian-Nya dengan menyertai Yosafat (ay 3). Apapun yang menjadi kebutuhannya selalu dipenuhi-Nya. Dalam 2 Raja 3:14-17 dicatat bagaimana Tuhan menyuplai Yosafat dengan air minum ketika mereka kehausan, ” 14 Berkatalah Elisa: “Demi TUHAN semesta alam yang hidup, yang di hadapan-Nya aku menjadi pelayan: jika tidak karena Yosafat, raja Yehuda, maka sesungguhnya aku ini tidak akan memandang dan melihat kepadamu… 17 sebab beginilah firman TUHAN: Kamu tidak akan mendapat angin dan hujan, namun lembah ini akan penuh dengan air, sehingga kamu serta ternak sembelihan dan hewan pengangkut dapat minum.” Tuhan mau menolong karena pada saat itu ada Yosafat.

Tuhan kemudian mengokohkan kerajaannya (ay 5), Yosafat menjadi makin kuat (ay 12-“Yosafat makin lama makin kuat, menjadi luar biasa kuat. Di Yehuda ia membangun benteng-benteng dan kota-kota perbekalan”), bahkan negeri-negeri sekelilingnya tunduk kepadanya (ay 10- “Ketakutan yang dari TUHAN menimpa semua kerajaan di negeri-negeri sekeliling Yehuda, sehingga mereka tidak berani berperang melawan Yosafat.”) Kerajaan Yehuda atau Israel Selatan menjadi aman seperti yang dicatat dalam pasal 20:30, “Dan kerajaan Yosafat amanlah, karena Allahnya mengaruniakan keamanan kepadanya di segala penjuru.”

Tuhan juga menyelamatkan dan memberikan kemenangan dalam tiap peperangan. Pasal 18:31 mencatat bagaimana Tuhan menyelamatkan dia di medan pertempuran melawan Aram,”31 Segera sesudah para panglima pasukan kereta itu melihat Yosafat, mereka berkata: “Itu raja Israel!” Lalu mereka mengepung dia, untuk menyerang dia, tetapi Yosafat berteriak dan TUHAN menolongnya. Allah membujuk mereka pergi dari padanya.” Sehingga Yosafat bisa pulang dengan selamat seperti yang dicatat dalam pasal 19:1, “Yosafat, raja Yehuda, pulang dengan selamat ke istananya di Yerusalem. ” Begitu juga dalam pasal 20 diceritakan bagaimana Tuhan menyelamatkan Yosafat serta memberikan kemenangan atas serangan gabungan oleh bani Amon, bani Moab dan orang-orang pegunungan Seir. Dicatat dalam ayat 22:” 22 Ketika mereka mulai bersorak-sorai dan menyanyikan nyanyian pujian, dibuat Tuhanlah penghadangan terhadap bani Amon dan Moab, dan orang-orang dari pegunungan Seir, yang hendak menyerang Yehuda, sehingga mereka terpukul kalah.” Selanjutnya dalam ayat 29 dikatakan, ” 29 Ketakutan yang dari Allah menghinggapi semua kerajaan negeri-negeri lain, ketika mereka mendengar, bahwa TUHAN yang berperang melawan musuh-musuh Israel.”

Tuhan membuat Yosafat sangat dihormati dan kaya (ay 5). Dalam bahasa Ibraninya dikatakan “‘osher wekabod larov(brol’ dAbk’w>-rv,[o)”

Sungguh luar biasa, bagaimana Tuhan benar-benar membuktikan janji-Nya terhadap orang yang menghormati Dia.

Menghormati Tuhan (bagian 9)

en-auto-peripateo

Yosua adalah seorang yang sungguh-sungguh menghormati Tuhan. Di hadapan umat Allah dia mendeklarasikan bagaimana dia dan seluruh keluarganya menetapkan untuk mengabdi kepada Tuhan.

Dalam Yosua 24:15 dikatakan, “Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN! ”

Menanggapi Yosua, seluruh umat menyatakan bagaimana mereka juga berketetapan untuk menghormati Tuhan. Ini dapat dilihat dalam ayat 16 yang berbunyi, “Lalu bangsa itu menjawab: “Jauhlah dari pada kami meninggalkan TUHAN untuk beribadah kepada allah lain!”

Yosua menghormati Tuhan sepanjang waktu, seumur hidupnya. Menghormati Tuhan merupakan sesuatu yang berlangsung terus menerus. Kita tidak menghormati Tuhan hanya sesekali saja, akan tetapi untuk seterusnya. Dalam ayat 14 Yosua mengatakan, “Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN.” Disaksikan oleh seluruh umat pada saat itu, Yosua menyatakan bagaimana dia sejak awal sampai hari tuanya tetap menghormati Tuhan

Selanjutnya Yosua menghormati Tuhan dengan seluruh keturunannya. Menghormati Tuhan merupakan sesuatu yang berlangsung turun termurun, dari satu generasi kepada generasi yang lain. Oleh karena itu menghormati Tuhan bukan hanya untuk diri sendiri saja. Menghormati Tuhan harus diajarkan kepada seluruh keturunan kita. Ekspresi ucapan Yosua ini di dalam bahasa Ibraninya adalah,

“`hw”hy>-ta, dbo[]n: ytiybeW ykinOa’w> (weanoki ubeti na’abod et Adonai)”

Marilah kita menghormati Tuhan seperti yang Yosua lakukan kepada Tuhan, yakni tanpa henti-hentinya terus menerus serta mencakup seluruh keturunan kita.

Menghormati Tuhan (bagian 6)

hormati-Tuhan-4

Imamat 19:30 mengatakan, “Kamu harus memelihara hari-hari sabat-Ku dan menghormati tempat kudus-Ku; Akulah TUHAN(War”yTi yviD”q.miW(umiqdashi tira’u).” Ini merupakan perintah Tuhan sendiri kepada kita agar kita semua menghormati tempat kudusnya. Kata Ibrani ‘menghormati’ yang dipakai di sini berasal dari akar kata “arey”(yare’)” yang berarti ‘to revere, fear atau takut, menghormati.’ Jadi  kalau ada instruksi untuk ‘takut akan Tuhan’ itu sebenarnya berarti ‘menghormati’ Tuhan.

Tempat kudus di sini adalah “vD’q.mi (miqdash)” merupakan tempat dimana ada kehadiran Allah. Tempat dimana Allah sendiri hadir merupakan tempat kudus.

Ketika Musa berjumpa dengan Tuhan melalui semak duri yang terbakar tetapi tidak hangus, Tuhan menyatakan bahwa tempat dimana Musa berdiri itu adalah kudus. Dalam Keluaran 3:5 dikatakan, “Lalu Ia berfirman: ‘Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.'” Tempat kudus Tuhan di sini berarti tempat dimana Tuhan sendiri hadir.

Dimana ada kehadiran Tuhan di situ ada kekudusan.

Marilah kita sungguh-sungguh menghormati tempat kudus-Nya, yaitu pertama-tama dengan mengikuti tata laksana yang sudah Tuhan berikan dalam firman-Nya. Melanggar aturan ini berarti tidak menghormati kekudusan Tuhan. Dalam 2 Tawarikh 26:16 dikatakan, “Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak. Ia berubah setia kepada TUHAN, Allahnya, dan memasuki bait TUHAN untuk membakar ukupan di atas mezbah pembakaran ukupan.”

Dicatat di sini bagaimana raja Uzia melakukan sesuatu yang bukan bagiannya sekalipun dia adalah raja. Ini berarti tidak menghormati kekudusan Tuhan karena dia melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh imam di Rumah Tuhan. Akibat dari tidak menghormati tempat kudus, maka dia terkena tulah kusta.

Berikutnya, kita menghormati kekudusan Tuhan dengan menyembah hanya kepada Tuhan saja, tidak kepada yang lain-lain. Dalam Mazmur 138:2 dikatakan, “Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala sesuatu.” Fokus kita hanyalah kepada Tuhan saja, bersyukur dan memuji Dia karena kasih-Nya, kesetiaan-Nya, dan kebesaran-Nya. Memuji ataupun mengagumi selain dari Tuhan akan merupakan idolatrous practices. Ini adalah bentuk penyembahan berhala. Inilah yang disebut tidak menghormati tempat kudus-Nya. Baik pengkhotbah, maupun semua yang ikut ambil bagian dalam pelayanan hanyalah ‘alat’ Tuhan. Dalam setiap ibadah, fokus utama haruslah pada Tuhan saja.

Menghormati Tuhan (Bagian 5)

hormati-Tuhan-4

Wahyu 4:11 mengatakan,”Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.”
Pasal 4 ini menceritakan tentang apa yang terjadi di sorga. Dalam penglihatan itu tampak bahwa Allah duduk di atas takhta sementara yang ada di sekelilingnya sujud menyembah dan menghormati Tuhan. Perlu dipahami bahwa kitab Wahyu ini merupakan catatan mengenai penglihatan yang dilihat oleh Yohanes. Oleh karena itu ketika kita mempelajari Kitab Wahyu, kita harus mengerti bahwa ini adalah penglihatan (apokalyps). Penglihatan ini membawa message (pesan) secara khusus. Pesan (message) inilah yang harus kita pahami.
Menghormati Tuhan menunjukkan bagaimana Dia memang layak. Dalam ayat 3-5 dicatat betapa Allah itu begitu mulia,” 3Dan Dia yang duduk di takhta itu nampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis; dan suatu pelangi melingkungi takhta itu gilang-gemilang bagaikan zamrud rupanya.4Dan sekeliling takhta itu ada dua puluh empat takhta, dan di takhta-takhta itu duduk dua puluh empat tua-tua, yang memakai pakaian putih dan mahkota emas di kepala mereka.5Dan dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh yang menderu, dan tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu: itulah ketujuh Roh Allah.”
Selanjutnya menghormati Tuhan merupakan sesuatu yang tidak perlu disuruh lagi. Di hadapan Tuhan tidak ada yang lain yang dilakukan selain dari memuji dan menghormati Tuhan. Tidak ada kata-kata lain selain dari ucapan yang memuliakan serta menghormati Tuhan. Menghormati Tuhan haruslah merupakan yang utama dalam hidup kita. Dalam ayat 9-10 dikatakan, ” 9Dan setiap kali makhluk-makhluk itu mempersembahkan puji-pujian, dan hormat dan ucapan syukur kepada Dia, yang duduk di atas takhta itu dan yang hidup sampai selama-lamanya,
10maka tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya. Dan mereka melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu, sambil berkata:…” Ketika menghormati Tuhan kita jadikan sebagai fokus utama dalam hidup kita, maka hal-hal yang lain atau kebutuhan-kebutuhan kita akan menjadi urusan Tuhan. Dia sendiri yang akan menyelesaikannya bagi kita.
Jikalau kita sungguh-sungguh menyadari bahwa Tuhan memang layak untuk dihormati dan menghormati Tuhan ini menjadi yang terutama dalam hidup kita, maka sepanjang tahun ini semuanya akan diselesaikan-Nya bagi kita.

Menghormati Tuhan (Bagian 4)

hormati-Tuhan-4

Dalam 1 Korintus 6:19-20 dikatakan,”19Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?20Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!

Kehendak Tuhan yang disampaikan melalui Paulus ini adalah agar kita menghormati Tuhan dengan tubuh kita. Di dalam bahasa Yunaninya dikatakan, ” doxa,sate to.n qeo.n evn tw/| sw,mati u`mw/n(doksasate  ton Theon en to somati ymon)” yang berarti ‘hormati/muliakan Tuhan dengan tubuhmu.’

Bagaimanakah menghormati Tuhan dengan tubuh kita ini ! Pertama-tama kita harus mengerti bahwa kita ini bukan milik kita sendiri lagi. Kita adalah milik Tuhan, sudah dibeli dan sudah dibayar lunas. Selain itu tubuh kita ini merupakan bait Roh Kudus, dimana Roh Allah sendiri tinggal di dalam kita. Dalam bahasa Yunaninya dikatakan ” nao.j tou/ a`gi,ou pneu,mato,j(naos tou agiou pneumatos)” yang berarti ‘tabernakel Roh Kudus.’Sedangkan dalam bahasa Ibraninya dikatakan, “vd<Qoh; x:Wr !K;v.mi(mishkan ruakh haqodesh)”

Bait Allah ini berbicara mengenai kekudusan. Tuhan menghendaki supaya kehidupan kita ini kudus. Jadi menghormati Tuhan dengan tubuh kita merupakan sesuatu yang sudah seharusnya demikian, mengingat bahwa tubuh kita bukan lagi milik kita sendiri, tetapi milik Allah. Bahkan Dia berkenan tinggal di dalam kita. Dengan demikian kekudusan ini merupakan inti dari menghormati Tuhan dengan tubuh kita.

Konteks dari nasihat mengenai menghormati Tuhan dengan tubuh kita ini dapat dilihat dalam kaitannya dengan ayat 18 yang berbunyi, “Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri.” Dinasihatkan di sini supaya kita menjauhkan diri dari setiap bentuk dosa percabulan, pezinahan dsb. Itulah sebabnya dalam Roma 12:1-2 dinasihatkan supaya kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang kudus.

Manusia ini sebenarnya adalah makhluk roh yang mempunyai jiwa dan tinggal di dalam tubuh.

Menghormati Tuhan dengan tubuh kita berarti kita menjaga serta memelihara tubuh ini dengan baik, dan mendedikasikannya untuk kemuliaan Tuhan.

Menghormati Tuhan (Bagian 3)

hormati-Tuhan

Amsal 3:9 mengatakan, ” Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu,” — “`^t,(a’WbT.-lK’ tyviªarEmeW÷ ^n<+Ahme hw”hy>â-ta, dBeäK; (kabed eth Adonai mehoneka umereshit kol-tebuatekha)”

Kata Ibrani “dBeK; (kabed)” yang dipakai di sini berbentuk imperative yang menyatakan suatu perintah yang tegas, yang berarti “hormatilah atau muliakanlah!” Ini merupakan perintah dari Tuhan sendiri di dalam Firman-Nya.

Tuhan menghendaki supaya kita menghormati/memuliakan Dia dengan harta kita. Kata Ibrani “!Ah (hon)” yang dipakai di sini berarti ‘harta kekayaan atau substance.’

Pertama-tama, haruslah disadari bahwa “!Ah (hon)” atau ‘harta kekayaan’ adalah dari Tuhan sendiri. Semuanya itu berasal dari Tuhan dan sebenarnya adalah milik Tuhan. Dalam Mazmur 112:3 dikatakan, ” Harta (“!Ah – hon)”dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya.” Tuhanlah yang memberikan semuanya itu kepada kita. Pengkhotbah 5:19 menngatakan,“Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya juga itupun karunia Allah.”

Itulah sebabnya Tuhan menghendaki supaya kita menghormati Dia dengan harta kita, karena semua itu ternyata berasal dari Dia saja. Walaupun ada di tangan kita, namun sebenarnya ini adalah milik-Nya. Semuanya ada di tangan kita juga karena kita hidup menghormati Tuhan. Dalam Mazmur 112:1 dikatakan, “Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya.”

Dengan demikian yang dimaksudkan dengan ‘menghormati Tuhan dengan harta kita’ di sini adalah bagaimana kita menjaga baik-baik harta kita serta menggunakannya secara benar sehingga mendatangkan kemuliaan bagi nama Tuhan. Marilah kita sungguh menghormati Tuhan dengan segala yang ada dalam tangan kita.

Menghormati Tuhan (bagian 2)

hormati-Tuhan

Dalam 1 Korintus 10:31 dikatakan,”Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”

Kata Yunani ” do,xa (doksa) ” yang dipakai di sini berarti “to honor, to glorify.” Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, Paulus menyatakan bagaimana Tuhan menghendaki supaya kita selalu menghormati Tuhan dalam segala aspek kehidupan ini. Semua yang kita lakukan haruslah untuk menghormati Tuhan.

“hwhy ta, dBek;l.(lekabed et Adonai)” berarti ‘menghormati Tuhan’. Kata “dBek;l.(lekabed) di sini berasal dari akar kata “Ibrani “dbeK'(kabed)” yang berarti ‘to honor, to be heavy’.

Baik makan, minum dan aktivitas lainnya, semuanya itu harus didasarkan pada menghormati Tuhan. Jadi semua ini bukanlah untuk diri kita sendiri, namun untuk kemuliaan Tuhan atau hormat kepada Tuhan.

Menghormati Tuhan berarti tidak bertindak sesuka hati, atau semaunya sendiri, namun mau mengikuti apa yang menjadi kemauan Tuhan.

Dalam Kejadian 20 ayat 11 dikatakan, ” Lalu Abraham berkata: ‘Aku berpikir: Takut akan Allah tidak ada di tempat ini; tentulah aku akan dibunuh karena isteriku.‘” Abraham beranggapan bahwa di wilayah Gerar ini orang akan berbuat semaunya tanpa menghormati Tuhan. Kalau mereka suka pada seorang wanita, maka mereka akan merebutnya dari suaminya serta membunuhnya. Keadaan seperti inilah yang merupakan contoh kehidupan yang tidak menghormati Tuhan, yakni semaunya sendiri.

Menghormati Tuhan berarti kita mau mentaati aturan atau guideline yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Dalam hal ini kita tidak bertindak semau kita sendiri, tapi mau mentaati Tuhan.