Menghormati Tuhan (Bagian 1)

hormati-Tuhan

Pada tahun ini Tuhan menghendaki supaya kita hidup menghormati Tuhan – ‘to honor  God’. Apakah dan bagaimanakah menghormati Tuhan itu, marilah kita lihat dalam 1 Samuel 2:30 yang berbunyi, “Sebab itu demikianlah firman TUHAN, Allah Israel sesungguhnya Aku telah berjanji: Keluargamu dan kaummu akan hidup di hadapan-Ku selamanya, tetapi sekarang demikianlah firman TUHAN :Jauhlah hal itu dari pada-Ku! Sebab siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati, tetapi siapa yang menghina Aku, akan dipandang rendah.”(`WLq”yE yz:boW dBek;a] yd:B.k;m.-yKi…)

Di dalam bahasa Ibrani dikatakan “hwhy ta, dBek;l.”(lekabed et Adonai). Kata Ibrani “dbeK'”(kabed) berarti ‘to honor, to be heavy’.

Di sini kita lihat bahwa Tuhan sendirilah yang berbicara mengenai menghormati Dia. Kehidupan kita haruslah merupakan kehidupan yang menghormati Allah (honoring God). Tuhan menghendaki supaya kita senantiasa menghormati Tuhan. Menghormati Tuhan bukanlah sekedar himbauan, akan tetapi ini mempunyai ikatan yang erat dengan janji Tuhan. “Sebab siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati(dBek;a] yd:B.k;m.-yKi).

Kalau kita mau melihat janji Tuhan dinyatakan dalam hidup kita, maka kita harus menyadari bahwa Tuhan menghendaki supaya kita menghormati Dia. Tidak akan ada janji Allah terjadi dalam hidup kita apabila kita tidak menghormati Dia lebih dulu.

Sepanjang tahun ini kita akan melihat bagaimana Allah akan menyatakan janji-Nya kepada kita jika kita sungguh-sungguh menghormati Dia.

Peripateo (anak bungsu) 36

en-auto-peripateo

Dalam perumpamaan Tuhan Yesus mengenai anak terhilang, si anak bungsu merupakan contoh bagaimana orang yang berjalan di luar jalur. Lukas 15:11-24 diceritakan, “11 Yesus berkata lagi: ‘Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. 12 Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. 13 Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. 14 Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat. 15 Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. 16 Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya.
17 Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. 18 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, 19 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. 20 Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. 21 Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. 22 Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. 23 Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. 24 Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria.'”
Berjalan di luar jalur Tuhan tidak akan memberikan hari depan yang penuh harapan. Hal ini terjadi karena: pertama, di luar jalur Tuhan tidak ada tuntunan ataupun pimpinan Roh Kudus. Galatia 5:16 mengatakan bahwa kita harus berjalan dipimpin oleh Roh Kudus. Yohanes 16:13 mengatakan bahwa Roh Kuduslah yang menuntun kita kepada segala kebenaran. Si anak bungsu menganggap bahwa dirinya bisa melakukan apa saja yang diingininya, namun karena tidak ada yang menuntunnya, maka dia terjerumus ke dalam kesulitan-kesulitan. Orang yang tidak berjalan di jalur Tuhan akan melakukan semua dengan sesuka hatinya sendiri. Inilah yang akan menjerumuskan kita ke dalam kesengsaraan.Roh Kudus hanya berkenan memimpin orang yang mau berjalan di jalur Tuhan saja.
Kedua, di luar jalur Tuhan segalanya adalah fana dan semu. Sekalipun si anak bungsu tampak berkelimpahan dengan harta, namun itu hanya seperti uap yang dalam sekejap akan lenyap. Materi yang sama di tangan orang yang berjalan di jalur Tuhan akan berbeda hasilnya. Di dalam jalur Tuhan tidak fana dan tidak semu. Sebaliknya di luar jalur Tuhan semuanya adalah fan dan semu.

Merayakan Natal. Alkitabiah Kah?

alkitab

Beberapa minggu yang lalu setelah ibadah doa malam di gereja kami, seorang bapak yang sedang berkunjung di gereja kami mengatakan kepada saya bahwa di gerejanya tidak mengadakan perayaan Natal pada setiap bulan Desember. “Anda tahu kalo Yesus bukan dilahirkan pada bulan Desember?” kata bapak itu kepada saya. “Pada dasarnya orang dulu itu merayakannya dan bertepatan untuk memuja dewa-dewa.. apa gitu.” lanjut bapak itu. “Tahukah kalo Yesus itu dilahirkan sekitar bulan April.. bukan Desember? Tidak ada di dalam Alkitab yang mengatakan bahwa Yesus lahir pada tanggal 25 desember. Jadi tidak baik dan tidak alkitabiah jika kita merayakannya!” lanjut bapak itu kembali sambil meneruskan penjelasannya yang.. masuk akal dan.. mungkin saja… benar.

“Pak, gereja kami memilih ibadah doa malam di hari kamis disini tidak ada di Alkitab. Ibadah di hari minggu setiap pagi yang dimulai jam delapan juga tidak ada di dalam Alkitab. Kebaktian kaum wanita setiap hari jumat di gereja kami dan juga gereja-gereja lain memilih mengadakan pada hari-hari lainnya tidak ada dalam Alkitab. Kebaktian Kebangunan Rohani yang diadakan malam hari oleh banyak gereja juga tidak ada dalam Alkitab. Tuhan tidak pernah menyuruh kita untuk merayakan harinya atau waktunya.. tetapi merayakan arti dari kelahiranNya, keberadaanNya, dan kebesaranNya di dalam hidup kita dan bagi kita. Jadi jangan melarang orang lain untuk merayakan natal di bulan desember.” jawab saya kepada bapak tersebut dengan penuh hormat.

(Mazmur 118:24)

(Diambil dari “Catatan-catatan Kecil Roy Rampengan di Facebook)

Mengasihi Tuhan

Tuhan-mengasihi

Kehidupan yang saleh dan taat kepada Tuhan adalah satu hal. Ayub juga adalah seorang yang taat kepada Tuhan sekalipun hanya dari kata orang saja dia mengenal Allah. Akan tetapi mengasihi Tuhan merupakan kunci untuk hidup berkemenangan. Seseorang bisa saja hidup saleh karena mentaati peraturan Tuhan, tetapi tidak tahu bagaimana mengasihi Tuhan.

‘Mengasihi’ dalam hal ini berarti ‘melekatkan hidup kita kepada-Nya.’ Mazmur 91 ayat 14 mengatakan, “Sungguh hatinya melekat kepadaku…” Di dalam bahasa aslinya dikatakan “ki bi khashaq.” Kata “khashaq” di sini berarti ‘menaruh cinta, atau jatuh cinta.‘ Kalau kita mengasihi Tuhan maka kita akan mempunyai pengalaman keintiman dengan Tuhan. Pengalaman inilah yang membuat kita benar-benar mengenal Tuhan secara pribadi bukan dari kata orang. Pengenalan yang benar akan Tuhan akan membuat kita mengenal dan mengerti setiap janji Tuhan dan ketetapan-ketetapan-Nya.

Efesus 6:24 Kasih karunia menyertai semua orang, yang mengasihi Tuhan kita Yesus Kristus dengan kasih yang tidak binasa.

Orang yang mengasihi Tuhan bukan saja mau mentaati ketetapan-ketetapan yang Tuhan berikan melalui Firman-Nya, akan tetapi juga selalu rindu mengekspresikan kasihnya tersebut melalui persekutuan yang intim dengan Tuhan. Sepasang kekasih yang saling mengasihi senantiasa menjaga keintiman dan keakraban antara keduanya. Dengan demikian akan timbul suatu pengenalan yang mendalam.

Dalam Kejadian pasal 4 ayat 1 diceritakan mengenai Adam dan Hawa yang saling memadu kasih sebagaimana layaknya suami istri. Melalui hubungan suami istri inilah maka hawa mengandung kemudian melahirkan Kain. Akan tetapi di dalam bahasa Ibrani digunakan kata “yada” yang berarti “mengenal.

Suatu pengenalan yang mendalam akan Tuhan merupakan hasil dari kasih yang mendalam kepada Tuhan. Oleh sebab itu apabila tidak ada dasar kasih maka tidak akan ada pengenalan yang benar. Dalam kisah Ayub, dapat dikatakan bahwa dia tidak tahu bagaimana seharusnya mengasihi Tuhan. Kesalehannya hanyalah wujud dari ketakutannya akan Tuhan saja, yang tidak disertai mengasihi Dia. Itulah sebabnya Ayub tidak mempunyai pengenalan yang benar akan Allah serta Firman-Nya.

Marilah kita lebih sungguh mengasihi Tuhan, yaitu dengan menjaga keintiman dan keakraban bersama Tuhan. Dengan demikian maka kita akan mempunyai pengenalan yang benar akan Tuhan termasuk juga ketetapan-ketetapan-Nya.

Matius 22:37 mengatakan, “Jawab Yesus kepadanya: ‘Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.’” Mengasihi Tuhan tidaklah hanya dengan akal budi saja (mind/pikiran), akan tetapi juga harus mencakup emosi atau perasaan kita.

Kata Yunani ‘ dianoi,a ‘ yang diterjemahkan ‘pikiran,‘ merupakan wilayah logika manusia. Seseorang bisa saja mengasihi Tuhan dengan pikirannya saja. Dalam hal ini dia beranggapan bahwa yang perlu adalah ketaatan saja. Akan tetapi Tuhan juga menghendaki agar kita mengasihi Dia dengan segenap jiwa kita.

Kata Yunani ‘psyche‘ yang berarti “jiwa” ini menunjukkan adanya kaitan dengan emosi atau perasaan. Kita mengasihi Tuhan dengan perasaan kita juga. Yohanes 4:25 mengatakan, “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” Di dalam bahasa Yunani kata ‘menyembah‘ ini adalah ‘proskyneo‘ yang mengandung pengertian “berintim dengan Tuhan.” Pada saat seperti inilah maka kita bisa menyatakan perasaan kasih kita kepada Dia. Inilah perasaan kasih yang diungkapkan ketika kita sedang menyembah Dia.

Dalam Markus 12:33 dikatakan, “Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.” Mengasihi Tuhan adalah yang paling utama di atas segalanya. Bahkan lebih dari upacara-upacara korban atau sesuatu yang bersifat ritual. Upacara korban sangat penting, akan tetapi ini hanya merupakan sarana saja. Melalui upacara korban ini maka hubungan dengan Allah benar-benar terwujud, antara lain terjadinya pengampunan, pemulihan dan lain sebagainya.

Untuk mendapat pengampunan atas dosanya maka umat-Nya memang harus mempersembahkan korban penghapus dosa. Ini merupakan substitusi dari korban yg Yesus lakukan di atas salib. Melalui korban Yesus inilah maka kita semua diselamatkan. Akan tetapi semua upacara korban tersebut hanyalah sarana saja untuk menghampiri Tuhan. Yang lebih penting adalah mengasihi Tuhan.

Kesalehan, ketaatan dan takut akan Tuhan harus didasarkan atas mengasihi Tuhan. Tanpa mengasihi Tuhan, maka semua itu hanyalah upacara belaka. Yang Tuhan kehendaki adalah mengasihi Dia, sebab mengasihi Tuhan akan berarti bahwa kita hidup taat dan setia kepada-Nya.

Pdt. Dr. Samuel Hosea.

Ayub Yang Saleh (Bag.4-4)

korban-bakaran

Selain menjaga kehidupannya yang murni di hadapan Tuhan, Ayub juga seorang yang tidak melalaikan ibadahnya kepada Tuhan. Ini menunjukkan bahwa dia senantiasa ingat pada Tuhannya. Dalam pasal 1 ayat 5 dikatakan, “Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: ‘Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati.’ Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.”

Korban bakaran yang dipakai di sini adalah “‘olah
yaitu, ‘burnt offerings.” Menurut hukum Musa yang dicatat dalam Imamat 1:1-17, korban bakaran ini merupakan persembahan sukarela yang dinaikkan kepada Tuhan. Ini merupakan persembahan yang berbau harum di hadapan Tuhan (sweet smelling offering). Korban ini adalah korban penyerahan kehidupan yang sepenuhnya kepada Tuhan. Sebenarnya korban bakaran ini tidak dimaksudkan suatu pengampunan terhadap adanya perbuatan dosa.

Untuk korban penghapus dosa ataupun pengampunan, maka korban yang harus dilakukan menurut Torah adalah “khata’ah” yang berarti “sin offering atau korban penghapus dosa.” Selain itu juga ada “‘asham” yang berarti “trespass offering atau korban penebus salah”(Im 4 &5).

Berbeda dengan korban bakaran, korban penghapus dosa dan penebus salah merupakan sesuatu yang wajib dalam kaitannya dengan perbuatan dosa. Itulah sebabnya ini disebut sebagai non-sweet smelling offerings atau korban yang tidak berbau harum.

Lebih dari dua ribu tahun yang lalu Yesus Kristus telah menjadi korban penghapus dosa bagi manusia. Dia rela mati di atas salib bagi kita semua sebagai korban atas segala dosa kita. Sebab tanpa korban Yesus tidak akan ada pengampunan. Tidak seorangpun di dunia ini yang sanggup memberikan pengampunan atas segala dosa kita kecuali Yesus saja.

Sebagaimana “sin offering atau korban penghapus dosa” dan “trespass offering atau korban penebus salah” yang harus disertai dengan pencurahan darah, demikian juga dengan Yesus, Dia telah mencurahkan darahnya sendiri untuk mengampuni dosa dan kesalahan kita. Ibrani 9 ayat 22 mengatakan, “Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.

Apa yang dilakukan dalam perjanjian Lama merupakan bayangan dari apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus ketika berkorban bagi kita. Dia adalah Anak Domba itu yang telah dikorbankan untuk kita. Kemudian setelah kita menerima pengampunan barulah korban bakaran itu menjadi efektif dalam kehidupan kita. Dalam hal ini kita mendedikasikan hidup kita sepenuhnya kepada Dia. Sebagaimana korban bakaran yang harus dijaga agar apinya tidak padam, demikian juga kita harus senantiasa mempersembahkan hidup kita kepada Tuhan.

Pdt. Dr. Samuel Hosea.

Ayub Yang Saleh (Bag.3-4)

ayub-yang-saleh

Dalam pasal 1 ayat 22 kitab Ayub ini dikatakan, “Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.” Bahasa aslinya mengatakan, ‘bekol zot lo khata ‘Iyob welo tiphla lelohim’ yang berarti “dalam kondisi seperti itu Ayub tidak melakukan dosa dalam kaitannya dengan tindakan-tindakan yang tidak layak kepada Tuhan.” Dosa yang dimaksudkan di sini adalah suatu bentuk perbuatan yang merupakan hujat kepada Tuhan ataupun perbuatan mengutuki Tuhan.

Juga dalam pasal 2 ayat 10 dikatakan, “Tetapi jawab Ayub kepadanya: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.” Dengan lebih jelas di sini dikatakan bahwa Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya. Ini berarti bahwa Ayub tidak mengucapkan hal-hal yang merupakan hujat maupun kutuk kepada Tuhan.

‘bekol zot lo khata ‘Iyob bisephatav”

Melalui terjemahan aslinya, dapat dipahami dengan jelas bahwa Ayub bukanlah seorang tidak berdosa sama sekali dalam hidupnya (sinless). “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”(Rm 3:23). Satu-satunya yang tidak berdosa sama sekali (sinless) hanyalah Yesus saja. Semua manusia sudah berdosa, tidak seorangpun yang benar.

Kesaksian Alkitab mengenai ketidakberdosaan Ayub ini sebenarnya merupakan suatu pernyataan bahwa Ayub memang tidak berbuat dosa dengan perkataannya. Dalam ayat 11 pasal 1 dikatakan bahwa iblis memang mentargetkan Ayub untuk mengutuki Tuhan – (“Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu”). Seolah-olah iblis begitu yakin pasti bahwa Ayub akan mengutuki Tuhan – “im-lo al phaneka yewarekeka”

Ternyata iblis keliru besar, karena Ayub sama sekali tidak mengutuki Tuhan sekalipun dia mengalami penderitaan yang sangat hebat tersebut.
Itulah sebabnya Alkitab menyatakan bahwa Ayub memang tidak berbuat dosa, akan tetapi ini tidak berarti bahwa Ayub tidak berdosa dalam segala hal. Dalam pasal 42:6 dikatakan bagaimana Ayub mau merendahkan diri dan mohon ampun di hadapan Tuhan. “Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.” Ayub menyadari akan adanya kesalahan-kesalahan dalam dirinya yang merupakan celah bagi iblis untuk menerobosnya. “wenikhamti ‘al-‘aphar wa’epher” Kata “nikhamti” ini berasal dari akar kata “nikham” yang berarti ‘bertobat.’

Pdt. Dr. Samuel Hosea. Surabaya maps

Pencuri ( o kleptes )

Pencuri (o kleptes)

Yohanes 10:10 “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”

Tuhan Yesus sendirilah yang menyatakan bahwa pencuri itu ada. Kata Yunani yang dipakai di sini adalah “o kleptes”, yang berarti ‘stealer atau thief’. Bahkan dia bukan saja mencuri akan tetapi juga membunuh dan membinasakan.

Mencuri, membunuh dan membinasakan adalah perbuatan si jahat. Dialah si iblis yang selalu melakukan yang jahat. Akan tetapi Allah adalah Allah yang baik. Dalam ayat 11 Tuhan Yesus dengan tegas mengatakan, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya;” Segala ketidak-baikkan yang terjadi dalam hidup manusia adalah akibat dari perbuatan si jahat.

Allah yang baik sama sekali tidak pernah memberikan yang tidak baik kepada manusia. Memang iblis senang sekali apabila manusia mengalami kebingungan, sampai-sampai seringkali muncul anggapan bahwa Tuhanlah seakan-akan yang kejam dan iblislah yang baik. Padahal kenyataannya sama sekali tidaklah demikian. Allah tetap adalah Allah yang baik dan iblislah yang selalu melakukan segala yang jahat tersebut.

Kisah hidup Ayub misalnya, selalu mendatangkan kebingungan. Sebab bagaimana mungkin seorang sesaleh Ayub bisa mengalami penderitaan seperti itu. Dalam hal ini Allahlah yang selalu menjadi sasaran kecurigaan, bahwa Allah sedang menguji kesetiaan Ayub, Allah sedang mencobai Ayub yang saleh tersebut dan lain sebagainya. Sebenarnya sudah dicatat dengan jelas sekali di sana bahwa iblislah yang menyebabkan semua itu terjadi dalam diri Ayub. Namun masih banyak orang yang meyakini bahwa Allah bertanggung jawab atas semua yang terjadi pada Ayub. Inilah yang disukai iblis, karena dia selalu berusaha mengelabui manusia dengan mengaburkan inti permasalahannya.

Dalam kasus Ayub, Allah bukanlah pihak yang harus bertanggung jawab. Akan tetapi semua penderitaan Ayub adalah pekerjaan iblis yang selalu membuat manusia sengsara. Kehidupan manusia yang hancur berantakan sampai saat ini juga merupakan akibat dari ulah si jahat. Adam dan Hawa jatuh ke dalam pencobaan iblis sehingga seluruh keturunannya sampai saat ini sengsara. Akan tetapi anugerah Allah itu besar. Dia memberikan Yesus Kristus untuk mengambil alih semua penderitaan kita, bahkan sakit penyakit kita. Yesus mati di atas kayu salib supaya kita boleh hidup dan menikmati hidup yang kekal.

Allah adalah Allah yang berkenan memulihkan kita. Sebagaimana Ayub, justru Allahlah yang memulihkan kembali apa yang telah dirusak oleh iblis. Dialah si jahat yang mencuri dan membunuh dan membinasakan. Marilah kita senantiasa waspada terhadap pencuri seperti ini. Apabila kehidupan kita dipenuhi Firman-Nya, maka si jahat tidak akan dapat menjamah kita.

Pdt. Dr. Samuel Hosea.