Gaya Hidup Mewah (Hedonisme)

Baru saja saya membaca beberapa artikel berita di beberapa media eletronik mengenai gaya hidup mewah atau yang juga disebut hedonisme. Dan juga saya tidak melewatkan membaca komentar dari para pembaca yang ada.. dan mayoritas.. lebih dari 90 %.. mereka tidak sependapat dengan gaya hidup mewah yang dimiliki oleh orang-orang yang duduk di dalam jabatan yang berhubungan dengan rakyat.

Saya tertarik untuk menulis catatan-catatan kecil atas topik gaya hidup mewah ini. Beberapa orang pernah bertanya kepada saya apakah kita sebagai orang Kristen harus kaya? Saya jawab: “Harus. Kaya secara rohani.” Beberapa mereka bingung atas jawaban saya.. “Heh?.. kalo kaya materi?” Saya jawab: “Boleh banget.. tapi tidak harus!”

Orang Kristen itu luas…yang memiliki profesi yang bermacam-macam.. ada yang pengusaha ada yang pegawai kantoran, ada yang pegawai negeri, ada yang pendeta, dan sebagainya.

Delapan bulan yang lalu, di Surabaya, seorang yang kaya mengundang saya ke rumah mereka untuk berdoa bersama di tengah-tengah keluarga mereka. Setelah berdoa, kami makan malam bersama-sama dan bercerita-cerita.. sampai-sampai akhirnya kami malah membahas mengenai topik “Kaya”.

“Jika Bapak mengaku seorang Pengusaha yang sukses, namun kenyataannya Bapak kemana-mana pakai sepeda ontel atau sepeda motor butut.. apakah orang akan percaya bahwa Bapak adalah seorang Pengusaha yang sukses? Orang melihat Kesuksesan seorang Pengusaha itu dari materinya.” Jawab saya menjawab pertanyaan saya sendiri. “Tidak peduli Bapak memiliki agama apa, orang akan percaya dan menghargai bapak sebagai seorang Pengusaha sukses di ukur oleh tingkat materi yang Bapak miliki.”

“Orang akan percaya kepada Bapak yang mengaku sebagai seorang Rohaniwan dilihat dari apanya? Dari materinya atau rohaninya?” tanya saya disela-sela diskusi kami. Sambil berpikir Bapak itu menjawab: “Ehmm…… (yang cukup panjang)”. Saya kenal seorang Pengusaha yang sukses dan memiliki rohani yang baik (baca: cinta Tuhan). Beberapa orang yang juga mengenalnya berkata:  “Wah.. sudah Pengusaha sukses, cinta Tuhan lagi.”  Saya melihat bagaimanapun.. profesi seseoranglah yang menjadi nilai utama, sedangkan faktor lainnya adalah nilai tambahan saja yang bisa meningkatkan nilai seseorang di tengah masyarakat. Seperti hal-nya seorang Rohaniwan, orang akan percaya dan menghargai profesi mereka dengan menilai kehidupan rohani mereka.. bukan materi mereka.. walaupun tanpa dipungkiri bahwa seorang Rohaniwan juga memiliki kesempatan yang besar untuk memiliki kekayaan secara materi.

“Kaya” dan “Gaya Hidup Mewah” adalah 2 (dua) hal yang jelas berbeda.. artinya, orang kaya tidak harus bergaya hidup mewah. Mengapa? Sebab orang-orang seperti ini mengerti jelas profesi mereka di tengah-tengah masyarakat. Mereka tahu & sadar akan Nilai & Etika Moral Bermasyarakat.

Seorang Pengusaha yang sukses membeli rumah mewah dan mobil yang mewah dan juga bergaya hidup mewah adalah hal yang wajar.. namun jika seorang Rohaniwan atau Tokoh Masyarakat luas.. namun memiliki kekayaan secara materi yang banyak dan bergaya hidup mewah?

Saya percaya kita menghargai Mother Teresa, Sri Paus, Billy Graham, ataupun Tokoh Agama lainnya karena hidup kerohanian yang mereka teladankan kepada kita.. dan mereka tidak pernah meneladankan kehidupan materi mereka.

Nah.. tanpa disadari.. saat ini ada banyak pengajaran “rohani” yang justru meneladankan kehidupan materi atau status sosial daripada kerohanian itu sendiri. Dengan kata lain, membuat banyak orang untuk menjadikan materi atau harta benda menjadi sebuah kebanggaan diri dan menjadi salah satu ukuran dalam kerohanian seseorang di pandangan masyarakat.

Sebagai contoh.. tanpa dipungkiri ada banyak institusi-institusi agama yang sudah tidak jelas visi & pengajaran yang diberikannya. Bagi saya, jika anda ingin mendapat pengetahuan untuk menjadi kaya secara materi, ikutilah seminar-seminar Pengusaha sukses, atau sejenisnya, dan itu ada banyak dimana-mana.. bukan di institusi agama. Di sekolah-sekolah umum saja jelas pembagiannya; ada kelas Matematika, ada kelas Bahasa Indonesia, ada kelas Fisika, dan sebagainya. Apakah wajar jika anda mengikuti kelas Matematika, namun yang diajarkan di dalam kelas itu adalah materi Bahasa Indonesia?

Pencampur-adukkan inilah yang membuat orang bingung dan menilai sesuatu dengan tidak benar. Di gereja, pengajaran tentang Kaya dan Berkat yang bias dan bahkan cenderung..  ngawur ini.. berakibat tidak sedikit orang Kristen yang kaya secara materi menilai orang Kristen yang miskin secara materi berarti tidak diberkati.

Hal inilah yang membuat banyak kita sebagai orang Kristen lupa siapa diri kita. Sampai-sampai kita menilai pendeta yang tidak kaya secara materipun dikatakan pendeta yang tidak diberkati. Saya mengatakan.. pencampur-adukkan ajaran-ajaran ini pada tempat yang tidak tepat akan mengakibatkan ketidak-jelasan identitas seseorang di tengah-tengah masyarakat.. artinya menjadikan kita lupa profesi kita yang sesungguhnya di tengah-tengah masyarakat.

So this is my point.. kalo ingin bergaya hidup mewah.. janganlah berprofesi menjadi Rohaniwan atau Tokoh Masyarakat.. jadilah Pengusaha, Artis, atau yang lainnya. And.. orang yang hidup penuh kelimpahan tidak berarti bergaya hidup mewah bukan?

(Mazmur 112:3; Amsal 3:16; Amsal 22:4; Yehezkiel 28:4; 1 Timotius 6:17; Filipi 4:19)

Roy Rampengan

Comment

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*