Kejatuhan Hamba Tuhan

Beberapa saat yang lalu, saya mengantar dua orang Hamba Tuhan dari Amerika ke bandara Juanda, untuk kembali ke tempat asal mereka setelah melayani di gereja lokal kami. Di dalam perjalanan, kami bertiga banyak sharing mengenai aspek-aspek kehidupan di dalam melayani Tuhan. Entah bagaimana obrolan kami bergeser kepada banyaknya masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh mereka yang melayani dan bergerak di ladang Tuhan sepenuh waktu… seperti pendeta, pengkotbah televisi, pemusik rohani, dsb..

Ada banyak kejatuhan para hamba Tuhan di dalam pelayanan mereka. Banyak contoh mereka yang sebenarnya menjadi panutan (public figure) di dalam pelayanan Tuhan namun jatuh ke dalam berbagai macam dosa. Dan kejatuhan itu terpublikasi oleh media sehingga banyak orang yang mengetahuinya. Ada yang selingkuh, ada yang menjadi pelaku penyimpangan orientasi seksual (gay & lesbian), ada yang membawa lari uang gereja, ada yang kawin cerai dan sebagainya.

Salah satu dari kedua hamba Tuhan yang bersama-sama dengan saya pada waktu itu berkata bahwa; “kita tidak bisa dan perlu menghakimi mereka. Kita semua adalah manusia yang tidak kebal dari dosa dan tidak ada diantara kita yang sempurna, siapapun itu, tanpa terkecuali para hamba Tuhan yang melayani di dalam ladang pekerjaan-Nya. Itulah sebabnya kita memiliki Kristus yang penuh dengan rahmat kasih karunia-Nya bagi kita. Dosa sebesar apapun, Tuhan pasti mengampuninya.”

Yang membuat saya ingin menulis catatan ini adalah: yang menjadi masalah bukanlah hal dosa itu. Saya seratus persen percaya Tuhan mengampuni semua dosa dan kesalahan kita. Siapapun itu, tanpa terkecuali para hamba Tuhan yang pernah jatuh dalam dosa. Kita semua manusia yang berdosa.

Tapi, mengapa banyak di antara hamba Tuhan yang sudah atau pernah jatuh dalam dosa namun tetap mempertahankan kedudukan atau jabatan mereka di dalam pelayanan gerejawi? Banyak dari antara mereka tetap melayani sebagai pengkotbah televisi, sebagai pendeta dan sebagainya? Apakah mereka tidak berpikir bahwa untuk menjadi seorang yang memiliki kedudukan atau jabatan di dalam keagamaan adalah mereka yang memiliki kriteria yang baik dan benar? Dan jika kriteria itu dilanggar, alangkah baiknya jika mereka sadar untuk mundur dari jabatan pelayanan yang ada. Toh untuk melayani Tuhan, tidak harus menjadi seorang pendeta atau harus melayani di ladang pekerjaan Tuhan (baca:gereja, dll..)

Kalau seorang tentara atau siapapun yang melakukan pelanggaran di dalam jabatan yang mereka miliki dalam instansi mereka, siapa diantara kita yang mengharapkan orang tersebut untuk terus berada di posisi jabatan mereka?

Saat ini sedang marak banyak orang untuk menurunkan jabatan seseorang di dalam pemerintahan, dengan alasan bahwa mereka yang sedang menjabat sesuatu telah melanggar kriteria mereka sebagai pemimpin yang baik dan benar (korupsi lah, etc..).

Di dalam Alkitab sendiri jelas, untuk menjadi seorang penilik jemaat saja diperlukan orang yang memiliki kriteria yang baik. Alangkah baiknya mereka yang sudah tidak memenuhi kriteria di dalam sebuah jabatan di pelayanan gerejawi untuk sadar dan mundur. Toh.. kita melihat hal ini bukan dari segi pengampunan dosa lagi, tetapi dalam kacamata etika moral dalam kepemimpinan beragama.

Makanya tidak heran banyak orang saat ini tidak respek dengan apa yang disebut hamba Tuhan.. sebab mereka-mereka ini terus mau mempertahankan jabatan kedudukan mereka sebagai “hamba Tuhan” dengan berbagai alasan… salah satunya adalah “yang lalu sudah berlalu.”

Jika kita semua menyadari posisi dan jabatan kita saat ini, dan mau berkaca dalam hal itu, itu sama halnya kita menghargai mereka para hamba Tuhan yang baik, yang terus menjaga prinsip dan kriteria hidup pelayanan mereka kepada Tuhan. Saya tahu, ada banyak hamba Tuhan yang seperti itu.

So.. alangkah baiknya kita semua mau menjaga sebuah kriteria dalam fungsi dan jabatan yang telah dipercayakan di dalam pelayanan. Jika kita tahu kita sudah tidak masuk dalam kriteria itu, mengapa kita terus mempertahankannya?

Saya berpikir, orang akan jauh lebih hormat dan respek jika kita menyadarinya.

Tuhan memberkati.

(2 Tesalonika 2:7; 3:9; 1 Timotius 3:1-16, 1 Petrus 5:3)

Roy Rampengan

One thought on “Kejatuhan Hamba Tuhan

  1. ando777

    Shalom. Saya hanya terus merenungkan, tentang hamba Tuhan yang jatuh dalam dosa. Memang demikianlah fenomena yang terjadi dikalangan hamba Tuhan yang jatuh dalam dosa, budaya “diberhentikan” dari seluruh kegiatan pelayanan, alih-alih seperti yang Anda katakan bahwa pelayanan tidak selalu di ladang Tuhan. Tapi saya ingin Anda memahami, jika Anda katakan melayani Tuhan tidak selalu di ladang Tuhan, lalu di ladang siapakah seharusnya hamba Tuhan melayani? Apakah Anda ingin memisahkan bahwa ladang Tuhan adalah di mimbar dan dunia sekuler berarti bukan ladang Tuhan? Bukankah semua tempat adalah ladang Tuhan yang dimana kita harus bekerja dan membawa jiwa sebanyak mungkin? Jika kita memahami baik di Mimbar (dalam gereja) adalah ladang Tuhan dan dunia sekuler adalah ladang Tuhan maka kita tidak akan berusaha memisah-misahkan tempat yangvtepat

Comment

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*