Mengasihi Tuhan

Kehidupan yang saleh dan taat kepada Tuhan adalah satu hal. Ayub juga adalah seorang yang taat kepada Tuhan sekalipun hanya dari kata orang saja dia mengenal Allah. Akan tetapi mengasihi Tuhan merupakan kunci untuk hidup berkemenangan. Seseorang bisa saja hidup saleh karena mentaati peraturan Tuhan, tetapi tidak tahu bagaimana mengasihi Tuhan.

‘Mengasihi’ dalam hal ini berarti ‘melekatkan hidup kita kepada-Nya.’ Mazmur 91 ayat 14 mengatakan, “Sungguh hatinya melekat kepadaku…” Di dalam bahasa aslinya dikatakan “ki bi khashaq.” Kata “khashaq” di sini berarti ‘menaruh cinta, atau jatuh cinta.‘ Kalau kita mengasihi Tuhan maka kita akan mempunyai pengalaman keintiman dengan Tuhan. Pengalaman inilah yang membuat kita benar-benar mengenal Tuhan secara pribadi bukan dari kata orang. Pengenalan yang benar akan Tuhan akan membuat kita mengenal dan mengerti setiap janji Tuhan dan ketetapan-ketetapan-Nya.

Efesus 6:24 Kasih karunia menyertai semua orang, yang mengasihi Tuhan kita Yesus Kristus dengan kasih yang tidak binasa.

Orang yang mengasihi Tuhan bukan saja mau mentaati ketetapan-ketetapan yang Tuhan berikan melalui Firman-Nya, akan tetapi juga selalu rindu mengekspresikan kasihnya tersebut melalui persekutuan yang intim dengan Tuhan. Sepasang kekasih yang saling mengasihi senantiasa menjaga keintiman dan keakraban antara keduanya. Dengan demikian akan timbul suatu pengenalan yang mendalam.

Dalam Kejadian pasal 4 ayat 1 diceritakan mengenai Adam dan Hawa yang saling memadu kasih sebagaimana layaknya suami istri. Melalui hubungan suami istri inilah maka hawa mengandung kemudian melahirkan Kain. Akan tetapi di dalam bahasa Ibrani digunakan kata “yada” yang berarti “mengenal.

Suatu pengenalan yang mendalam akan Tuhan merupakan hasil dari kasih yang mendalam kepada Tuhan. Oleh sebab itu apabila tidak ada dasar kasih maka tidak akan ada pengenalan yang benar. Dalam kisah Ayub, dapat dikatakan bahwa dia tidak tahu bagaimana seharusnya mengasihi Tuhan. Kesalehannya hanyalah wujud dari ketakutannya akan Tuhan saja, yang tidak disertai mengasihi Dia. Itulah sebabnya Ayub tidak mempunyai pengenalan yang benar akan Allah serta Firman-Nya.

Marilah kita lebih sungguh mengasihi Tuhan, yaitu dengan menjaga keintiman dan keakraban bersama Tuhan. Dengan demikian maka kita akan mempunyai pengenalan yang benar akan Tuhan termasuk juga ketetapan-ketetapan-Nya.

Matius 22:37 mengatakan, “Jawab Yesus kepadanya: ‘Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.’” Mengasihi Tuhan tidaklah hanya dengan akal budi saja (mind/pikiran), akan tetapi juga harus mencakup emosi atau perasaan kita.

Kata Yunani ‘ dianoi,a ‘ yang diterjemahkan ‘pikiran,‘ merupakan wilayah logika manusia. Seseorang bisa saja mengasihi Tuhan dengan pikirannya saja. Dalam hal ini dia beranggapan bahwa yang perlu adalah ketaatan saja. Akan tetapi Tuhan juga menghendaki agar kita mengasihi Dia dengan segenap jiwa kita.

Kata Yunani ‘psyche‘ yang berarti “jiwa” ini menunjukkan adanya kaitan dengan emosi atau perasaan. Kita mengasihi Tuhan dengan perasaan kita juga. Yohanes 4:25 mengatakan, “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” Di dalam bahasa Yunani kata ‘menyembah‘ ini adalah ‘proskyneo‘ yang mengandung pengertian “berintim dengan Tuhan.” Pada saat seperti inilah maka kita bisa menyatakan perasaan kasih kita kepada Dia. Inilah perasaan kasih yang diungkapkan ketika kita sedang menyembah Dia.

Dalam Markus 12:33 dikatakan, “Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.” Mengasihi Tuhan adalah yang paling utama di atas segalanya. Bahkan lebih dari upacara-upacara korban atau sesuatu yang bersifat ritual. Upacara korban sangat penting, akan tetapi ini hanya merupakan sarana saja. Melalui upacara korban ini maka hubungan dengan Allah benar-benar terwujud, antara lain terjadinya pengampunan, pemulihan dan lain sebagainya.

Untuk mendapat pengampunan atas dosanya maka umat-Nya memang harus mempersembahkan korban penghapus dosa. Ini merupakan substitusi dari korban yg Yesus lakukan di atas salib. Melalui korban Yesus inilah maka kita semua diselamatkan. Akan tetapi semua upacara korban tersebut hanyalah sarana saja untuk menghampiri Tuhan. Yang lebih penting adalah mengasihi Tuhan.

Kesalehan, ketaatan dan takut akan Tuhan harus didasarkan atas mengasihi Tuhan. Tanpa mengasihi Tuhan, maka semua itu hanyalah upacara belaka. Yang Tuhan kehendaki adalah mengasihi Dia, sebab mengasihi Tuhan akan berarti bahwa kita hidup taat dan setia kepada-Nya.

Pdt. Dr. Samuel Hosea.

Comment

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*