Menghormati Tuhan (bagian 14)

2 Raja-raja 18:1-8 mencatat, “1 Maka dalam tahun ketiga zaman Hosea bin Ela, raja Israel, Hizkia, anak Ahas raja Yehuda menjadi raja. 2 Ia berumur dua puluh lima tahun pada waktu ia menjadi raja dan dua puluh sembilan tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Abi, anak Zakharia. 3 Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN, tepat seperti yang dilakukan Daud, bapa leluhurnya. 4 Dialah yang menjauhkan bukit-bukit pengorbanan dan yang meremukkan tugu-tugu berhala dan yang menebang tiang-tiang berhala dan yang menghancurkan ular tembaga yang dibuat Musa, sebab sampai pada masa itu orang Israel memang masih membakar korban bagi ular itu yang namanya disebut Nehustan. 5 Ia percaya kepada TUHAN, Allah Israel, dan di antara semua raja-raja Yehuda, baik yang sesudah dia maupun yang sebelumnya, tidak ada lagi yang sama seperti dia. 6 Ia berpaut kepada TUHAN, tidak menyimpang dari pada mengikuti Dia dan ia berpegang pada perintah-perintah TUHAN yang telah diperintahkan-Nya kepada Musa. 7 Maka TUHAN menyertai dia; ke manapun juga ia pergi berperang, ia beruntung. Ia memberontak kepada raja Asyur dan tidak lagi takluk kepadanya. 8 Dialah yang mengalahkan orang Filistin sampai ke Gaza dan memusnahkan daerahnya, baik menara-menara penjagaan maupun kota-kota yang berkubu.” Melalui catatan Firman Tuhan ini jelas terbukti bahwa orang yang menghormati Tuhan akan disertai-Nya dan menikmati keberhasilan. Sementara bagi kerajaan Israel Utara pada masa Hizkia inilah mereka justru dihancurkan oleh Asyur. Dalam 2 Raja-raja 18:9-12 dicatat, “9 Dalam tahun keempat zaman raja Hizkia itulah tahun ketujuh zaman Hosea bin Ela, raja Israel majulah Salmaneser, raja Asyur, menyerang Samaria dan mengepungnya. 10 Direbutlah itu sesudah lewat tiga tahun; dalam tahun keenam zaman Hizkia itulah tahun kesembilan zaman Hosea, raja Israel direbutlah Samaria. 11 Raja Asyur mengangkut orang Israel ke dalam pembuangan ke Asyur dan menempatkan mereka di Halah, pada sungai Habor, yakni sungai negeri Gozan, dan di kota-kota orang Madai, 12 oleh karena mereka tidak mau mendengarkan suara TUHAN, Allah mereka, dan melanggar perjanjian-Nya, yakni segala yang diperintahkan oleh Musa, hamba TUHAN; mereka tidak mau mendengarkannya dan tidak mau melakukannya.”

Jelas sekali terlihat di sini perbedaan antara orang yang menghormati Tuhan dengan mereka yang tidak menghormati Tuhan. Raja Hizkia benar-benar hidup menghormati Tuhan. Dalam ayat 5 tadi malah dicatat bagaimana sebelum dan sesudah Hizkia tidak ada yang sama seperti dia. Bahkan dalam zaman Hizkia inilah perayaan Paskah mulai dilaksanakan kembali. Ini dicatat dalam 2 Tawarikh 30:1,”Kemudian Hizkia mengirim pesan kepada seluruh Israel dan Yehuda, bahkan menulis surat kepada Efraim dan Manasye supaya mereka datang merayakan Paskah bagi TUHAN, Allah orang Israel, di rumah TUHAN di Yerusalem.”

Hizkia menyadari betul bahwa kehidupan yang tidak menghormati Tuhan hanya akan menyusahkan diri sendiri saja. Hal ini dikemukakannya secara jelas sebagaimana dicatat dalam 2 Tawarikh 29:6-10, ” 6 Karena nenek moyang kita telah berubah setia. Mereka melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, Allah kita, telah meninggalkan-Nya, mereka telah memalingkan muka dari kediaman TUHAN dan membelakangi-Nya. 7 Bahkan mereka menutup pintu-pintu balai rumah TUHAN dan memadamkan segala pelita. Mereka tidak membakar korban ukupan dan tidak mempersembahkan korban bakaran bagi Allah orang Israel di tempat kudus, 8 sehingga murka TUHAN menimpa Yehuda dan Yerusalem. Ia membuat mereka menjadi kengerian, kedahsyatan dan sasaran suitan seperti yang kamu lihat dengan matamu sendiri. 9 Karena hal itulah nenek moyang kita tewas oleh pedang, dan anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan kita beserta isteri-isteri kita menjadi tawanan. 10 Sekarang aku bermaksud mengikat perjanjian dengan TUHAN, Allah Israel, supaya murka-Nya yang menyala-nyala itu undur dari pada kita.”

Orang yang menghormati Tuhan adalah seorang yang mau belajar, seperti Hizkia dia mempelajari apa saja yang tidak berkenan di hadapan Tuhan yang kemudian mengakibatkan segala malapetaka itu terjadi. Selanjutnya Hizkia menetapkan untuk setia kepada Tuhan dengan segenap hati.

Marilah kita terus mau belajar untuk semakin menghormati Tuhan, maka Tuhan akan bertindak untuk menyatakan kebaikan-Nya pada kita.

 

Comment

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*