Menghormati Tuhan (bagian 6)

hormati-Tuhan-4

Imamat 19:30 mengatakan, “Kamu harus memelihara hari-hari sabat-Ku dan menghormati tempat kudus-Ku; Akulah TUHAN(War”yTi yviD”q.miW(umiqdashi tira’u).” Ini merupakan perintah Tuhan sendiri kepada kita agar kita semua menghormati tempat kudusnya. Kata Ibrani ‘menghormati’ yang dipakai di sini berasal dari akar kata “arey”(yare’)” yang berarti ‘to revere, fear atau takut, menghormati.’ Jadi ¬†kalau ada instruksi untuk ‘takut akan Tuhan’ itu sebenarnya berarti ‘menghormati’ Tuhan.

Tempat kudus di sini adalah “vD’q.mi (miqdash)” merupakan tempat dimana ada kehadiran Allah. Tempat dimana Allah sendiri hadir merupakan tempat kudus.

Ketika Musa berjumpa dengan Tuhan melalui semak duri yang terbakar tetapi tidak hangus, Tuhan menyatakan bahwa tempat dimana Musa berdiri itu adalah kudus. Dalam Keluaran 3:5 dikatakan, “Lalu Ia berfirman: ‘Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.'” Tempat kudus Tuhan di sini berarti tempat dimana Tuhan sendiri hadir.

Dimana ada kehadiran Tuhan di situ ada kekudusan.

Marilah kita sungguh-sungguh menghormati tempat kudus-Nya, yaitu pertama-tama dengan mengikuti tata laksana yang sudah Tuhan berikan dalam firman-Nya. Melanggar aturan ini berarti tidak menghormati kekudusan Tuhan. Dalam 2 Tawarikh 26:16 dikatakan, “Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak. Ia berubah setia kepada TUHAN, Allahnya, dan memasuki bait TUHAN untuk membakar ukupan di atas mezbah pembakaran ukupan.”

Dicatat di sini bagaimana raja Uzia melakukan sesuatu yang bukan bagiannya sekalipun dia adalah raja. Ini berarti tidak menghormati kekudusan Tuhan karena dia melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh imam di Rumah Tuhan. Akibat dari tidak menghormati tempat kudus, maka dia terkena tulah kusta.

Berikutnya, kita menghormati kekudusan Tuhan dengan menyembah hanya kepada Tuhan saja, tidak kepada yang lain-lain. Dalam Mazmur 138:2 dikatakan, “Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala sesuatu.” Fokus kita hanyalah kepada Tuhan saja, bersyukur dan memuji Dia karena kasih-Nya, kesetiaan-Nya, dan kebesaran-Nya. Memuji ataupun mengagumi selain dari Tuhan akan merupakan idolatrous practices. Ini adalah bentuk penyembahan berhala. Inilah yang disebut tidak menghormati tempat kudus-Nya. Baik pengkhotbah, maupun semua yang ikut ambil bagian dalam pelayanan hanyalah ‘alat’ Tuhan. Dalam setiap ibadah, fokus utama haruslah pada Tuhan saja.

Comment

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*