Sistem Disiplin Dalam “On-Time”

Ketika saya masih studi di sekolah Alkitab di Surabaya, kami memiliki seorang dosen yang benar-benar disiplin dalam waktu dimulainya kelas, khususnya dalam hal On-Time. Sampai-sampai murid yang datang terlambat kuliah untuk mengikuti kelas tidak dijinkan untuk masuk. (termasuk saya yang pernah mengalaminya. :D) Saya ingat dosen saya ini berkata bahwa terlalu banyak mahasiswa Alkitab yang tidak disiplin dalam hal berkuliahnya; datang suka terlambat. Saat itu saya benar-benar tertegur.

Hanya, terlalu sering setiap waktu pelajaran yang semestinya sudah selesai, dosen saya masih terus mengajar.. bahkan pernah sampai setengah jam lewat dari waktunya. Waktu itu saya berpikir, apakah yang dinamakan On-Time adalah hanya waktu mulai kuliahnya saja sedangkan jika waktu selesai itu tidak termasuk dalam On-Time.

Saya dulu pernah berpikir ketika menonton film, mengapa sekolah-sekolah di luar negeri, di Amerika contohnya, ketika jam pelajaran sudah selesai selalu membunyikan Ring-Bell dan walaupun guru masih menjelaskan mata pelajarannya yang belum selesai, namun saat itu juga guru harus mengakhiri sesi belajar tersebut?

Suatu ketika saya berkunjung ke salah satu Elementry School di kota Iowa City dan bertanya dengan salah satu staf sekolah tersebut tentang hal ini dan ia mengatakan: “Ini hanya bagian kecil dari sistem disiplin yang ada di sekolah-sekolah.” “Sistem disiplin.. wiiih”.. pikir saya.

Artinya sebagus apapun sistem yang ada, jika tidak diterapkan dengan baik (disiplin), akan merusak sistem yang sudah diterapkan didalamnya. Sebagai contoh, di gereja lokal kami, pemimpin rohani kami mengajarkan untuk tepat waktu dalam hal beribadah. Apalagi jadwal ibadah di gereja lokal kami saat ini ada tiga kali pertemuan ibadah, jam tujuh pagi, sembilan, dan sepuluh. Biasanya kami selesai On-Time (tidak melebihi jam yang sudah ada di dalam sistem yang diberikan) dalam setiap pertemuan ibadah supaya jam ibadah berikutnya boleh berjalan sesuai tepat waktu. Sistem disiplin ini mensuport terciptanya visi yang diharapkan oleh pemimpin rohani di gereja lokal kami. Andai saja sistem disiplin ini diabaikan, misalnya saja ibadah yang diadakan jam tujuh atau yang jam sembilan sering molor waktu selesainya, tanpa disadari (dibawah alam sadar) jemaat bisa jadi berpikir.. “toh kebaktian yang sebelumnya belum selesai.. untuk apa saya datang On-Time.”

Saya jadi mengerti, bahwa di dalam setiap sistem ada yang namanya awal dan yang namanya akhir. Dimanapun, harapan seratus persen untuk menjalankan sistem disiplin tepat waktu ini sulit untuk dicapai. Masih banyak anak sekolah yang datang terlambat ke sekolah, masih banyak pegawai yang datang terlambat ke tempat kerja mereka, masih banyak jemaat gereja yang datang terlambat mengikuti kebaktian di gereja mereka.

“Ehmm…. sudah ada sistem disiplin saja hasilnya masih begini.. apalagi kalo tidak ada..” pikir saya.

(1 Korintus 14:40)

Roy Rampengan

Comment

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*